Tahun ini selain ingin terus meningkatkan mutu ibadah, saya punya target untuk anak-anak. Ihsan makin bagus puasa, tadarus dan kesabarannya. Nabila mulai mencoba berpuasa penuh. Dan bagi si kecil Ninis paling tidak jadi semangat ikut ritual ramadhan yang kami lakukan.
Untuk Ihsan dan Nabila saya agak lega, dengan pengawasan ketat meski susah payah, keduanya bisa diarahkan. Tapi khusus si bungsu, kami memang tidak memaksanya untuk ikut puasa karena secara fisik belum memungkinkan. Ia harus minum susu sekian jam sekali! Ya sudah, paling tidak dia tambah mengerti apa itu puasa dengan melihat kami tidak makan minum bersama dia sepanjang hari.
Meski tak puasa, Ninis kerap ikutan ke mushola untuk tarawih. Dan kemarin muncul masalah, dia mogok ke mushola. Dibujuk siapapun tetap tak mau, dia nangis meraung-raung. Saya curiga, karena tak biasanya dia begitu. Setelah dipancing-pancing, ternyata dia trauma ke mushola! Hah?
Beberapa hari silam dia dan beberapa kawannya sempat dibentak seorang bapak karena berisik saat pelaksanaan sholat. Saya sempat melihat saat si bapak membentak keras sekali. Sempat kepikiran kok begitu sih sama anak kecil! Tapi sudahlah, mungkin itu reaksi spontan si bapak, toh Ninis juga salah, berisik saat sholat!
Efeknya ternyata dalam sekali bagi Ninis. Dia begitu ketakutan. Saat itu ia langsung lari ke pelukan bundanya. Dan semalam, ia mogok ke mushola. Waduh, puyeng juga kalo keterusan. Dan ternyata akibat bentakan itu (si bapak membentak lebih dari sekali), ada beberapa anak lainnya yang juga gak mau datang lagi ke mushola.... Duh.