Tampilkan postingan dengan label ninis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ninis. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 Januari 2009

Ninis Sakit DB




Ninis dalam berbagai pose, sejak masuk RS Meilia, 27 Des'08 hingga pulang 3 Januari 2009.

Dari wajahnya terlihat perubahan, mulai dari layu, membaik hingga segar.

Semoga ini tak pernah terulang lagi untuk siapapun. Karena DB sulit dilacak awalnya. Panas di awal sakit selalu didiagnosa sebagai radang atau typhus. Jika orang tua abai, bisa2 anak kita 'lewat'.

Pelajaran terbesarnya: Sabar, sabar dan sabar. Dengan sabar kita bisa berpikir lebih rasional. Dan pikiran rasional dibutuhkan untuk mengambil tindakan cepat jika sewaktu-waktu terjadi hal yang tak terduga.

Oh ya, 6 hari di RS Ninis melewatkan 2 tahun baru, hijriah dan masehi. Sedih juga melihat kakaknya bawa terompet ke RS tanpa bisa kemana-mana. Malam tahun baru kita habiskan dari balik jendela, dengan kilatan kembang api dari warga di sekitar Cibubur.

Minggu, 04 Januari 2009

Alhamdulillah!

Hari yang berat dan melelahkan akhirnya lewat juga.

Akhir tahun yang biasanya diisi dengan keriaan, kali ini kami lewati dengan penuh keprihatinan. Persis tahun baru hijriah, sibungsu Ninis masuk rumah sakit Meilia Cibubur karena vonis DBD. Awalnya kami kira dia hanya panas biasa. Tapi kami curiga karena hingga hari ketiga panasnya belum juga usai.

Karena takut ada apa-apa, tes darah jadi rujukan. Ternyata benar dugaan kami, trombositnya di bawah normal, sudah 131 rb. Vonis DBD pun kami amini. Apalagi Ninis adalah orang ke-11 di komplek kami yang diopname karena DBD.

Di opname kondisinya naik turun, apalagi dia susah minum-makan dan minum obat. Padahal kunci pengobatan DB adalah banyak asupan makan dan minum untuk meningkatkan trombosit.

Banyak saran yang mampir ke kami, pakai inilah, itulah. Tapi kami sepakat untuk menggunakan sari kurma, karena alasan rasanya pasti disuka Ninis. Setelah masuk dengan trombosit 131 rb, trombonya turun ke 54 rb, 56 rb, 50 rb, 95 rb, dan sebelum pulang 150 rb.

Selama Ninis dirawat, saya pontang-panting dari RS - rumah - kantor. Anak sakit kok masuk kantor? Begitu yang dipertanyakan sejumlah kawan. Saya memang gak mungkin cuti, sebab dua kawan se-program sudah cuti duluan.

Pontang-panting lainnya karena si sulung akan dikhitan. Bunda menyarankan untuk di'cancel' aja sunatannya. Wah sudah dipesan semua, kalau dibatalkan pasti kena penalti. Akhirnya kami maju terus. Bunda mengurus printilan acara melalui hand phone-nya, saya dapat tugas mondar-mandir sampai nyebar undangan tetangga hingga telpon kerabat.

Sempat ketar-ketir juga lantaran saat hari-H si sulung, Ihsan dikhitan Ninis dan bunda masih di RS. Akhirnya siang harinya Ninis sudah boleh pulang.

Alhamdulillah acara syukuran khitanan Ihsan berjalan lancar dan Ninis kini sudah berada di tengah keluarga kembali. Benar-benar kado awal tahun yang luar biasa bagi kami sekeluarga. Melewatkan dua Tahun Baru di rumah sakit, membiarkan anak2 liburan sendiri di rumah, hingga ngantor saat anak sakit...

Rabu, 10 September 2008

Memarahi Anak Saat Tarawih

Setiap ramadhan saya selalu membuat target tak tertulis, baik bagi pribadi maupun untuk keluarga. Biasanya target itu ada yang jalan, kurang sempurna dan tidak. Tapi saya pastikan selalu ada target, setidaknya memacu hidup untuk menjadi lebih baik.

Tahun ini selain ingin terus meningkatkan mutu ibadah, saya punya target untuk anak-anak. Ihsan makin bagus puasa, tadarus dan kesabarannya. Nabila mulai mencoba berpuasa penuh. Dan bagi si kecil Ninis paling tidak jadi semangat ikut ritual ramadhan yang kami lakukan.

Untuk Ihsan dan Nabila saya agak lega, dengan pengawasan ketat meski susah payah, keduanya bisa diarahkan. Tapi khusus si bungsu, kami memang tidak memaksanya untuk ikut puasa karena secara fisik belum memungkinkan. Ia harus minum susu sekian jam sekali! Ya sudah, paling tidak dia tambah mengerti apa itu puasa dengan melihat kami tidak makan minum bersama dia sepanjang hari.

Meski tak puasa, Ninis kerap ikutan ke mushola untuk tarawih. Dan kemarin muncul masalah, dia mogok ke mushola. Dibujuk siapapun tetap tak mau, dia nangis meraung-raung. Saya curiga, karena tak biasanya dia begitu. Setelah dipancing-pancing, ternyata dia trauma ke mushola! Hah?

Beberapa hari silam dia dan beberapa kawannya sempat dibentak seorang bapak karena berisik saat pelaksanaan sholat. Saya sempat melihat saat si bapak membentak keras sekali. Sempat kepikiran kok begitu sih sama anak kecil! Tapi sudahlah, mungkin itu reaksi spontan si bapak, toh Ninis juga salah, berisik saat sholat!

Efeknya ternyata dalam sekali bagi Ninis. Dia begitu ketakutan. Saat itu ia langsung lari ke pelukan bundanya. Dan semalam, ia mogok ke mushola. Waduh, puyeng juga kalo keterusan. Dan ternyata akibat bentakan itu (si bapak membentak lebih dari sekali), ada beberapa anak lainnya yang juga gak mau datang lagi ke mushola.... Duh.