Tampilkan postingan dengan label sunat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sunat. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Januari 2009

Ihsan dikhitan

Sabtu lalu, dengan diantar pakde, mbah kakung dan ayah, Ihsan dikhitan di rumah sunatan, Cimanggis Depok. Saya pilih tempat ini berkat rekomendasi beberapa kawan, karena menggunakan metode baru smart klamp, teknologi Belanda yang difranchise dari Malaysia.

Apa kelebihan smart klamp? Proses sunatnya tidak banyak mengeluarkan darah, perawatannya mudah, setelah disunat sudah bisa menggunakan celana dan beraktivitas. Poin terakhir itulah yang membedakan dengan metode lainnya.

Proses sunat pun lumayan cepat. Datang pukul 05.30, daftar, menunggu dokter, tunggu giliran dan sunat cuma 15 menit.

Berbeda dengan tempat lain, rumah sunatan didesain ramah bagi anak-anak. Desain interiornya banyak dihiasi poster besar tokoh kartun. Sebelum 'eksekusi', pasien dialihkan perhatiannya dengan menonton film kartun.Tujuannya agar pasien tidak takut dan lebih rileks.

Kalau ada yang mengganjal, mungkin biayanya. Untuk sunat dengan metode smart klamp biayanya 750 rb rupiah. Tapi penanganannya cukup baik, dengan tenaga medis dokter yang masih muda dan sangat mengerti anak-anak.

Oya, selain di Depok, rumah sunatan juga ada di Bintaro, Cipinang, Kayu Putih, Surabaya, Medan dan Semarang.

*Ihsan beberapa saat sebelum disunat

Alhamdulillah!

Hari yang berat dan melelahkan akhirnya lewat juga.

Akhir tahun yang biasanya diisi dengan keriaan, kali ini kami lewati dengan penuh keprihatinan. Persis tahun baru hijriah, sibungsu Ninis masuk rumah sakit Meilia Cibubur karena vonis DBD. Awalnya kami kira dia hanya panas biasa. Tapi kami curiga karena hingga hari ketiga panasnya belum juga usai.

Karena takut ada apa-apa, tes darah jadi rujukan. Ternyata benar dugaan kami, trombositnya di bawah normal, sudah 131 rb. Vonis DBD pun kami amini. Apalagi Ninis adalah orang ke-11 di komplek kami yang diopname karena DBD.

Di opname kondisinya naik turun, apalagi dia susah minum-makan dan minum obat. Padahal kunci pengobatan DB adalah banyak asupan makan dan minum untuk meningkatkan trombosit.

Banyak saran yang mampir ke kami, pakai inilah, itulah. Tapi kami sepakat untuk menggunakan sari kurma, karena alasan rasanya pasti disuka Ninis. Setelah masuk dengan trombosit 131 rb, trombonya turun ke 54 rb, 56 rb, 50 rb, 95 rb, dan sebelum pulang 150 rb.

Selama Ninis dirawat, saya pontang-panting dari RS - rumah - kantor. Anak sakit kok masuk kantor? Begitu yang dipertanyakan sejumlah kawan. Saya memang gak mungkin cuti, sebab dua kawan se-program sudah cuti duluan.

Pontang-panting lainnya karena si sulung akan dikhitan. Bunda menyarankan untuk di'cancel' aja sunatannya. Wah sudah dipesan semua, kalau dibatalkan pasti kena penalti. Akhirnya kami maju terus. Bunda mengurus printilan acara melalui hand phone-nya, saya dapat tugas mondar-mandir sampai nyebar undangan tetangga hingga telpon kerabat.

Sempat ketar-ketir juga lantaran saat hari-H si sulung, Ihsan dikhitan Ninis dan bunda masih di RS. Akhirnya siang harinya Ninis sudah boleh pulang.

Alhamdulillah acara syukuran khitanan Ihsan berjalan lancar dan Ninis kini sudah berada di tengah keluarga kembali. Benar-benar kado awal tahun yang luar biasa bagi kami sekeluarga. Melewatkan dua Tahun Baru di rumah sakit, membiarkan anak2 liburan sendiri di rumah, hingga ngantor saat anak sakit...