Ramadhan ini alhamdulillah ada yang baru di lingkungan kami. Setelah setahun tinggal akhirnya kami bisa punya mushola sendiri. Sebuah mushola kecil namun insya Allah membawa berkah bagi kami.
Meski mungil dan sederhana, namun mushola ini memiliki riwayat penuh perjuangan.
Kami nyaris tak memiliki mushola jika tanpa perjuangan kesana kemari. Ceritanya, setelah pihak pengembang memberi lampu hijau pembangunan mushola, masalah kemudian muncul. Ada warga (non muslim) yang keberatan tanah depan rumahnya dibangun mushola. Alasannya, saat membeli rumah tidak digambarkan akan dibangun mushola. Waduh!
Lokasi mushola kami memang berdiri diatas taman belakang komplek. Karena terbatasnya lahan, satu-satunya lokasi yang bisa dibangun mushola ya di tempat itu. Setelah melakukan pendekatan yang lumayan alot, akhirnya warga tersebut melunak.
Tapi masalah belum usai, kali ini ia khawatir jika taman dibangun mushola nanti banjir. Ok, akhirnya kami sepakat membuat desain yang ramah lingkungan, dibuatlah mushola melayang bak rumah panggung.
Karena proses negosiasi itu memakan waktu, akhirnya pembangunan pun baru dimulai awal Agustus silam. Wah, sebulan kurang dong menjelang ramadhan! Bismillah aja...tutur rekan panitia pembangunan mushola. Tukang pun bekerja spartan. Berkat sumbangan warga, sejumlah pernik mushola pun terkumpul meski bangunan belum kelar. Hingga kerja bakti tanggal 31 Agustus 2008 pun digelar demi merapikan bangunan yang belum jadi itu.
Tapi tekad sudah bulat, kami harus sholat tarawih disini sejak malam pertama! Akhirnya berkat izin Allah, minggu malam lalu kamipun bisa melaksanakan shalat tarawih pertama kami meski kondisi mushola belum 100 persen ok. Dinding masih basah cat, atap belum tertutup, jendela belum berkaca, tangga belum terpasang. Pokoknya serba darurat. Alhamdulillah, semua itu tak mengurangi kekhusyukan ibadah.
Dan lebih penting lagi, anak-anak tak perlu lagi jauh untuk tarawih. Do'akan semoga mushola mungil ini bisa menjadi perekat ukhuwah dan memberikan pencerahan bagi kami warga komplek.