Safety, kata-kata yang belakangan lekat dengan berbagai tragedi di negeri ini. Termasuk saat mendengar kabar seorang kawan kameraman Lativi meregang nyawa saat kapal Levina satu tenggelam di perairan Muara Gembong Bekasi, minggu.
Bagi yang belum tahu, setelah terbakar Kamis lalu, hari Minggu rencananya kapal Levina ditarik ke Muara Gembong untuk diselidiki lebih lanjut. Namun penyelidikan belum usai, tiba-tiba kapal tenggelam. Seorang kameraman Lativi, Suherman yang akan menikah, tewas. Sementara seorang kameraman SCTV, M. Guntur hilang bersama 2 petugas Komisi Keselamatan Transportasi. Selain mereka, seorang kru RCTI juga kritis di RS Mitra Kemayoran.
Apa yang bisa direnungkan dari kejadian ini. Safety First. Ya, keselamatan adalah segalanya. Terbukti dari keterangan Dodo, kameraman Metro Tv yang selamat, para jurnalis abai dengan keselamatan pribadinya. Di kapal sudah disediakan pelampung yang jumlahnya cukup, tapi banyak yang mengabaikannya.
Siapa yang harus dituding? Tidak perlu saling tuding. Mestinya penyelidikan kasus semacam ini tertutup dari pers. Tak perlu lah pers ikut serta ke tengah laut. Dan tak perlu lah petugas penyelidik mengajak pers ikut serta. Hanya semata ingin dikatakan "kerja" dengan diliput pers, saya kira pandangan yang konyol.
Buat kawan-kawan pers, dalam beberapa kondisi memang kita kerap tak sempat membuat penyelamatan diri yang rapi. Utamanya jika situasinya kacau. Tapi kasus tenggelamnya Levina bukan kondisi seperti itu, sehingga bisa disiapkan prosedur keselamatan pribadi.
Bagi keluarga korban, saya ucapkan duka yang sedalamnya!
*gb.diambil dari sini.