Tampilkan postingan dengan label banjir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label banjir. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 Februari 2007

Lunturnya Sense of Crisis

Jengkel saya membaca dan mendengar komentar menko kesra Aburizal Bakrie. Bayangkan seorang pejabat publik bisa-bisanya ngomong kalau banjir di Jakarta cuma peristiwa biasa. Ia berkata demikian karena di layar tv rakyat terlihat tertawa-tawa ditengah banjir. Hah?!!!


Ical bisa berkata begitu karena tak kebanjiran. Boleh saja ia berkata apapun, tapi jangan menohok para korban banjir yang sudah sengsara. Kehilangan rumah, anak, orang tua dan harta benda. Kurang sengsara apa lagi mister ?


Tertawanya para korban banjir adalah pelepasan dari kesumpekan, menertawakan penderitaan yang datang silih berganti selama banjir. Saya rasa kita sangat sepakat kalau tertawanya mereka bukan kegembiraan beroleh 'anugerah banjir'.


Bagaimana Ical bisa merasakan kegetiran korban bencana, lha wong  ia dan keluarganya masuk urutan nomor 6 orang terkaya di Indonesia versi majalah Forbes. Jangan-jangan kunjungannya bersama presiden meninjau korban banjir di Kampung Melayu adalah saat pertamanya bersentuhan dengan air kotor banjir...


Ah, Ical-ical, kenapa negeri ini memiliki pemimpin sepertimu. Hingga kini semua rakyat Sidoarjo masih menyisakan derita akibat lumpur panas Lapindo, perusahaan eksplorasi minyak milik Bakrie. Dan yang membuat penderitaan warga sidoarjo terasa makin 'maknyus' karena Ical yang harusnya secara moral bertanggung jawab dalam kasus Lapindo kok tak mendapat sangsi apapun. Padahal ini adalah kejahatan korporasi terhadap lingkungan. Konon di luar negeri kejahatan macam ini beroleh sangsi hukuman yang keras.


Selain kasus Lapindo dan banjir, sudah banyak ucapan dan tindakan Ical yang keblinger, tak patut. Sebagai pejabat publik, harusnya kau jaga lidahmu. Karena pemimpin yang dipegang  ya omongannya. Tak terbayangkan jika pemimpin macam ini maju di pemilihan presiden nanti!!


*gambar diambil dari sini.

Korban Banjir Jadi Model Iklan?




Ironi dibalik banjir. Ini foto kiriman seorang kawan. Semula saya pikir hasil rekayasa foto, tapi setelah saya amati ternyata asli.

Bukan kebetulan kalau korban banjir ini sedang dikeramasi oleh kedua anaknya dengan shampo bermerk Sunsilk. Mestinya Unilever membeli foto ini dan menjadikannya sebagai iklan Sunsilk yang akan datang.

Ironinya ada di mana? Coba perhatikan si ibu dikeramasi rambutnya, artinya dibersihkan dari kotoran. Tapi perhatikan, badannya hingga dada terendam air kotor.

++

Ibu dan kedua anaknya layak dapat penghargaan dari produsen shampo ini. Coba aja bayangkan saat banjir besar melanda Jakarta, mereka tetap setia menggunakan shampo ini, meski harus dibilas dengan air kotor banjir.

Ketiganya bisa diganjar award sebagai pemasar kelas wahid, karena sangat sadar merk dan memanfaatkan segala kesempatan untuk berpromosi.

Mungkin pak Hermawan kertajaya berminat memberikan penghargaan?