Raisya Ali, bocah cilik berusia 5 tahun yang diculik sejak 15 Agustus lalu, hari ini akhirnya ditemukan. Beberapa saat lalu ia sudah ada didekapan kedua orang tuanya di Polda Metro Jaya.
Alhamdulillah!!....Ikut Lega!!
Raisya Ali, bocah cilik berusia 5 tahun yang diculik sejak 15 Agustus lalu, hari ini akhirnya ditemukan. Beberapa saat lalu ia sudah ada didekapan kedua orang tuanya di Polda Metro Jaya.
Alhamdulillah!!....Ikut Lega!!
SMA Negeri 70 mungkin satu-satunya sekolah di negeri ini yang kelahirannya paling disorot media lokal di Jakarta pada masanya. 5 Oktober 1981 adalah hari pertama penggabungan dua SMA di jalan Bulungan kawasan Kebayoran Baru Jakarta Selatan, yakni SMAN 9 dan SMAN 11. Mereka 'terpaksa' disatukan dalam identitas baru SMA Negeri 70, karena kerap terlibat tawuran yang amat mengkhawatirkan.
Penyatuan dua sekolah 'preman' ini awalnya cukup sulit. Masih ada perseteruan antara murid, antara guru dan antara pengelola. Yang satu merasa lebih 'berkelas' dibanding yang lain, sementara yang lain merasa lebih jagoan dari yang satu. Kondisi ini sempat saya rasakan saat tahun 1987 menjadi siswa disini.
Meski sudah angkatan ke-6, sisa-sisa kejayaan preman masih saya rasakan. Bagi siswa kelas 1 tak pernah merasa tentram di sekolah, karena pasti jadi sasaran pemalakan kakak kelas. Tak selesai di sekolah, di luar sekolah pun kami masih punya musuh abadi saat itu, yakni siswa STM. Berangkat dan pulang sekolah adalah saat yang paling mendebarkan. Mereka kerap memancing tawuran dengan kami.
Yang paling mengusik memori saya hingga kini, seorang kawan karib pernah ditikam kepalanya oleh kawan-2 STM. Meski tak langsung meninggal, namun 2 tahun kemudian akhirnya ia 'pergi' akibat karat senjata tajam yang bersarang di kepalanya. Duh!
Tapi cerita seram itu hanya sebagian kecil dari memori manis di 70. Meski terletak di kawasan elit, sekolah ini cukup egaliter. Tak ada pengkastaan antara the have dan the have not. Saya yang berasal dari kalangan biasa, bebas bergaul dengan semua kalangan, dari kalangan bawah hingga anak menteri dan artis terkenal. Tak ada sekat, tak ada batas.
Sekolah pun memberi ruang berekspresi yang cukup lapang bagi siswanya. Alhasil prestasi siswanya pun cukup membanggakan hingga kini. Bahkan kini SMA 70 termasuk salah satu sekolah unggulan di Jakarta. Oya disini juga ada sekolah internasionalnya juga yang biayanya ...waduh 40 jt.
Tahun ini bakal ada perayaan 25 tahun SMA 70. Kabarnya bakal ada acara gede di Plaza Timur Senayan Jakarta. Ayo 70 lovers ngumpul yuk!!!
Pekan lalu Jakarta diguncang gempa. Warga panik dan umumnya tak tahu harus berbuat apa. Nah, informasi ini mungkin berguna bagi kawan-kawan di Jakarta!
====
"Relawan Jakarta Siap!"
Kamis, 9 Agustus pukul 00.04 WIB, masyarakat
Setidaknya, sebagian warga
Coba lihat di sekitar kita, di lingkungan tempat tinggal kita, bahkan di pintu rumah yang kita tinggali. Tidak ada SOP (standard operating procedure) menghadapi bencana ¨Cseperti gempa misalnya-, tidak ada petunjuk arah evakuasi, tidak ada tempat lapang yang disepakati untuk berkumpul ketika gempa terjadi, bahkan tidak tahu kemana harus meminta bantuan, bahkan tidak tahu nomor telepon yang harus dihubungi untuk minta pertolongan.
Jika demikian adanya, warga
Jangan biarkan ini terjadi, jangan sampai jatuh korban terlalu banyak, dan jangan sampai orang-orang tercinta dan terdekat kita menjadi korban hanya karena kita tidak pernah berlatih dan bahkan tidak pernah mau tahu, serta tidak mengerti apapun tentang gempa dan bagaimana menghadapinya.
Gempa Kamis (9 Agustus 2007) dini hari ini menegur kita secara serempak untuk persiapkan diri. Ajak suami, isteri, anak-anak, orangtua, sepupu, keponakan, cucu, saudara dan tetangga Anda tidak terkecuali untuk hadir dalam "PELATIHAN TERBUKA KESIAPSIAGAAN GEMPA".
Kita menjadi relawan untuk keselamatan jiwa sendiri, untuk keluarga, orang-orang terdekat dan untuk bangsa. "Relawan Jakarta Siap"
Minggu, 19 Agustus 2007
Pukul 08.00 ¨C 09.30 WIB
Plaza Utara, Senayan,
Siapapun Anda, ibu rumah tangga, karyawan, pengusaha, pedagang, selebritis, tokoh masyarakat, pejabat, atau siapapun yang terpanggil, catat nomor penting ini; 021-7414482. Karena Anda peduli dengan diri dan keluarga Anda. Ayo buktikan, bahwa relawan
Pelatihan terbuka ini diselenggarakan atas kerjasama ACT, DMII (Disaster Management Institute of
Bayu Gawtama
OC Leader 0852 190 68581
ACT - Bayu Gawtama, Communication Senior Manager ACT
DMII - Anna, Development Management Partner DMII (081328598828)
MRI - Arifudin Muchtar, Chairman of MRI (08172334154)
CCDI - Hanny H Soemarno, Chairperson CCDI (0811234332)
G R A T I S (tidak dipungut biaya sepeser pun)
Irak akhirnya menjadi juara piala Asia. Setelah mengalahkan Arab Saudi di final 1-0, Irak berhak menggondol gelar pertamanya sekaligus mengukir sejarah.
Sebagai tim yang tak difavoritkan, kemenangan ini berarti banyak bagi bangsa Irak. Sebuah negeri yang tercerai berai akibat invasi Amerika dan sekutunya, bisa begitu kompak di lapangan hijau dan memberikan hasil maksimal.
Semoga gelar ini memberikan inspirasi bagi warga Irak untuk bersatu. Semoga kaum Sunni dan Syiah kembali duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi membangun negerinya yang sudah dikoyak bangsa barat. Sudahi perang dan jadikan ini momen berharga untuk berdamai.
Salut Irak!
Apa arti cinta bagi anda? Bagaimana persepsi anda mengenai cinta sesungguhnya? Apakah cinta anda berpamrih? Hmm... jika jawabannya membuat anda sendiri ragu, ada baiknya simak tulisan Anis Matta berikut ini.
Mencerahkan, sekaligus membuka mata hati betapa cinta saya masih jauh dari sempurna.
Maaf buat yang pernah baca. Lewatkan saja tulisan ini.
=================
Mencintai adalah Keputusan ---Oleh Anis Matta
Lelaki tua menjelang 80-an itu menatap istrinya. Lekat-lekat. Nanar. Gadis itu masih terlalu belia. Baru saja mekar. Itu bukan persekutuan yang mudah. Tapi ia sudah memutuskan untuk mencintainya. Sebentar kemudian ia pun berkata, "Kamu kaget melihat semua ubanku? Percayalah! Hanya kebaikan yang akan kamu temui disini." Itulah kalimat pertama Utsman Bin Affan ketika menyambut istri terakhirnya dari Syam, Naila. Selanjutnya adalah bukti.
Sebab cinta adalah kata lain dari memberi...sebab memberi adalah pekerjaan... sebab pekerjaan cinta dalam siklus memperhatikan, menumbuhkan, merawat dan melindungi itu berat...sebab pekerjaan berat itu harus ditunaikan dalam waktu lama...sebab pekerjaan berat dalam waktu lama begitu hanya mungkin dilakukan oleh mereka yang memiliki kepribadian kuat dan tangguh... maka setiap orang hendaklah berhati-hati saat ia akan mengatakan, "Aku mencintaimu. " Kepada siapa pun!
Sebab itu adalah keputusan besar. Ada taruhan kepribadian disitu. "Aku mencintaimu" adalah ungkapan lain dari, "Aku akan memperhatikan dirimu dan semua situasimu untuk mengetahui apa yang kamu butuhkan untuk tumbuh menjadi lebih baik dan bahagia...aku akan bekerja keras untuk memfasilitasi dirimu agar bisa tumbuh semaksimal mungkin...aku akan merawat dengan segenap kasih sayangku proses pertumbuhan dirimu melalui kebajikan harian yang akan kulakukan pada dirimu...aku juga akan melindungi dirimu dari segala sesuatu yang dapat merusak dirimu dan proses pertumbuhan itu...." Taruhannya adalah kepercayaan kepada orang yang kita cintai terhadap integritas kepribadian kita. Sekali kamu mengatakan kepada seseorang, "Aku mencintaimu, " harus kamu buktikan ucapan itu. Itu deklarasi jiwa bukan saja tentang rasa suka dan ketertarikan, tapi terutama tentang kesiapan dan kemampuan memberi, kesiapan dan kemampuan berkorban, kesiapan dan kemampuan melakukan pekerjaan-pekerjaan cinta: memperhatikan, menumbuhkan, merawat dan melindungi.
Sekali deklarasi cinta tidak terbukti, kepercayaan hilang lenyap. Tidak ada cinta tanpa kepercayaan. Begitulah bersama waktu suami atau istri kehilangan kepercayaan kepada pasangannya. Atau anak kehilangan kepercayaan kepada orang tuanya. Atau sahabat kehilangan kepercayaan kepada kawannya. Atau rakyat kehilangan kepercayaan kepada pemimpinnya. Semua dalam situasi: cinta yang tidak terbukti. Ini menjelaskan mengapa cinta yang terasa begitu panas membara di awal hubungan lantas jadi redup dan padam pada tahun kedua, ketiga, keempat dan seterusnya. Dan tiba-tiba saja perkawinan bubar, persahabatan berakhir, keluarga berantakan, atau pemimpin jatuh karena tidak dipercaya rakyatnya.
Jalan hidup kita biasanya tidak linear. Tidak juga seterusnya pendakian. Atau penurunan. Karena itu konteks di mana pekerjaan-pekerjaan cinta dilakukan tidak selalu kondusif secara emosional. Tapi disitulah tantangannya: membuktikan ketulusan di tengan situasi-situasi sulit. Disitu konsistensi teruji. Disitu juga integritas terbukti. Sebab mereka yang bisa mengejawatahkan cinta di tengah situasi yang sulit, jauh lebih bisa membuktikannya dalam situasi yang longgar.
Mereka yang dicintai dengan cara begitu, biasanya merasakan bahwa hati dan jiwanya penuh seluruh. Bahagia sebahagia-bahagiany a. Puas sepuas-puasnya. Sampai tak ada tempat bagi yang lain. Bahkan setelah sang pecinta mati. Begitulah Naila. Utsman telah memenuhi seluruh jiwanya dengan cinta. Maka ia memutuskan tidak menikah lagi setelah suaminya terbunuh. Ia bahkan merusak wajahnya untuk menolak semua pelamarnya. Tak ada yang dapat mencitai sehebat lelaki tua itu.
Satu lagi dunia lawak Indonesia kehilangan pelakonnya. Totok Asmuni atau lebih dikenal sebagai Asmuni Srimulat, meninggal dunia dalam usia 76 tahun Sabtu lalu dan telah dimakamkan di desanya Diwek, Jombang, Jawa Timur, hari Minggu. Bagi generasi MTV mungkin agak sedikit aneh mendengar nama ini, tapi bagi yang sempat mengenalnya di era TVRI dulu, tentu sangat familiar dengan sosoknya.
Asmuni dalam Srimulat --nah lho nggak tahu juga yang ini? ini grup lawak terkenal era jadul memang-- kerap memainkan lakon sebagai batur (pembantu). Dengan dandanan seadanya dan kumis khas Hitlernya, Asmuni dikenal sebagai pelawak yang 'cerdas' memainkan kata-kata. Sehingga banyak pelawak juniornya yang tak terlalu lucu bisa terpancing dengan ujaran-ujarannya.
Masih ingat "Hil yang Mustahal" ? Itu yang mempopulerkan Asmuni. Ujaran ini adalah plesetan yang menegaskan sesuatu yang mustahil terjadi. Dengan gaya pengucapan yang meyakinkan dan penekanan pada kata Mustahal, dijamin yang mendengarnya pasti tertawa. Bahkan mendengarnya puluhan kalipun tetap lucu kalo yang mengucapkan itu Asmuni.
Ada lagi kata yang juga terkenal dari Asmuni yaitu "Wassalam". Ujaran ini diucapkan untuk mengakhiri sebuah pernyataan. Maksudnya ini adalah keputusan, tak bisa dibantah alias Wassalam, akhir dari segala kontroversi.
Bagi keluarga kami dulu, Asmuni juga Srimulatnya adalah hiburan nomor satu. Semasa kecil hari-hari saya kerap diisi dengan lawakan-lawakan ndeso-nya Asmuni. Ndeso-nya Asmuni memang benar-benar kampungan, bukan sosok kota yang belagak ndeso. Tapi justru disitulah uniknya. Budaya Jawa yang menjadi latar cerita Srimulat menjadi perekat dengan penggemarnya.
Saya tak tahu apa dunia hiburan Indonesia masih memberi tempat pada sosok senior semacam almarhum Asmuni. Apalagi saat saya gogling, tak ada satupun gambar Asmuni yang saya dapat di dunia maya. Duh!
Selamat jalan Asmuni, terima kasih telah menyegarkan suasana rumah kami dahulu semasa kecil.
*gbr diambil dari sini.
Petang kemarin dada saya begitu sesak. Bukan akibat kaos saya yang kekecilan atau salah ukuran. Tapi karena lagu Indonesia Raya. Ya, lagu itu begitu membius relung-relung hati saya yang telah begitu lama tak dihampiri ke-Indonesiaan.
Selewat masa kuliah dan masuk dunia kerja, nyaris tak satu kalipun saya sempat ikut larut melantunkan lagu ini. Selain karena telinga saya sudah diokupasi oleh musik pop dan sejenisnya, perjumpaan saya dengan lagu itu memang tak ada lagi. Tak pernah lagi saya berada ditengah-tengah massa upacara bendera yang mesti mendendangkan karya agung WR Supratman itu.
Dan sore kemarin meski hanya melalui siaran tv, air mata saya ikut meleleh saat ribuan orang menyanyikan lagu itu sebelum pertandingan Piala Asia antara Indonesia dan Korsel.
Benar-benar dahsyat. Hati sayapun tergetar hebat.
Ternyata, saya memang masih orang Indonesia!