Tampilkan postingan dengan label gempa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label gempa. Tampilkan semua postingan

Senin, 13 Agustus 2007

Pelatihan Terbuka Kesiapsiagaan Gempa

Pekan lalu Jakarta diguncang gempa. Warga panik dan umumnya tak tahu harus berbuat apa. Nah, informasi ini mungkin berguna bagi kawan-kawan di Jakarta!
====

"Relawan Jakarta Siap!"

Kamis, 9 Agustus pukul 00.04 WIB, masyarakat Jakarta dikejutkan dengan guncangan gempa. Sebagian besar masyarakat Jakarta, baik yang sudah terlelap maupun yang sudah terjaga berhamburan keluar. Memang pusat gempa bukan di Jakarta, gempa berkekuatan 7,3 SR itu terjadi di 112 km dari Jakarta, tepatnya di kedalaman 284 km laut Indramayu. Guncangan pun dirasakan tak hanya di Jakarta, namun meluas hingga ke Bandung, Garut, Yogyakarta, sebagian Sumatera, Bali, NTB bahkan hingga ke Malaysia.

Setidaknya, sebagian warga Jakarta dibuat panik akibat guncangan gempa tersebut. Kenapa panik? Tentu wajar jika siapa pun akan panik menghadapi bencana seperti gempa. Kedua, boleh jadi kita panik karena memang warga Jakarta benar-benar belum pernah berlatih sekalipun bagaimana dan apa yang harus dilakukan dalam kondisi darurat gempa, bagaimana menghadapi gempa, bagaimana refleks menyelamatkan diri, kemana harus berlari, dimana harus berlindung, siapa saja yang harus dilindungi, apa saja yang harus dibawa, dan lain sebagainya.

Coba lihat di sekitar kita, di lingkungan tempat tinggal kita, bahkan di pintu rumah yang kita tinggali. Tidak ada SOP (standard operating procedure) menghadapi bencana ¨Cseperti gempa misalnya-, tidak ada petunjuk arah evakuasi, tidak ada tempat lapang yang disepakati untuk berkumpul ketika gempa terjadi, bahkan tidak tahu kemana harus meminta bantuan, bahkan tidak tahu nomor telepon yang harus dihubungi untuk minta pertolongan.

Jika demikian adanya, warga Jakarta memang benar-benar tidak siap menghadapi bencana! BAYANGKAN JIKA GEMPA BERKEKUATAN 7,3 SR ITU BERPUSAT DI DARAT!­

Jangan biarkan ini terjadi, jangan sampai jatuh korban terlalu banyak, dan  jangan sampai orang-orang tercinta dan terdekat kita menjadi korban hanya karena kita tidak pernah berlatih dan bahkan tidak pernah mau tahu, serta tidak mengerti apapun tentang gempa dan bagaimana menghadapinya. 

Gempa Kamis (9 Agustus 2007) dini hari ini menegur kita secara serempak untuk persiapkan diri. Ajak suami, isteri, anak-anak, orangtua, sepupu, keponakan, cucu, saudara dan tetangga Anda tidak terkecuali untuk hadir dalam "PELATIHAN TERBUKA KESIAPSIAGAAN GEMPA".
Kita menjadi relawan untuk keselamatan jiwa sendiri, untuk keluarga, orang-orang terdekat dan untuk bangsa. "Relawan Jakarta Siap"

Minggu, 19 Agustus 2007
Pukul 08.00 ¨C 09.30 WIB
Plaza Utara, Senayan, Jakarta

Siapapun Anda, ibu rumah tangga, karyawan, pengusaha, pedagang, selebritis, tokoh masyarakat, pejabat, atau siapapun yang terpanggil, catat nomor penting ini; 021-7414482. Karena Anda peduli dengan diri dan keluarga Anda. Ayo buktikan, bahwa relawan Jakarta siap, cukup dengan menyisihkan satu-setengah jam waktu Anda untuk bersama-sama berlatih kesiapsiagaan gempa. Ingat, tidak pernah ada yang bisa memprediksi kapan dan dimana bencana terjadi. Karenanya, kesiapsiagaan itu menjadi wajib.

Pelatihan terbuka ini diselenggarakan atas kerjasama ACT, DMII (Disaster Management Institute of Indonesia), MRI (Masyarakat Relawan Indonesia), CCDI (Corporate Circle for Disaster Interest), dan MPBI (Masyarakat Penanggulangan Bencana Indonesia)

Bayu Gawtama
OC Leader  0852 190 68581

ACT - Bayu Gawtama, Communication Senior Manager ACT
DMII - Anna, Development Management Partner DMII (081328598828)
MRI - Arifudin Muchtar, Chairman of MRI (08172334154)
CCDI - Hanny H Soemarno, Chairperson CCDI (0811234332)

G R A T I S (tidak dipungut biaya sepeser pun)

Minggu, 21 Januari 2007

Gempa di Menado

Menado diguncang gempa bumi 6,5 skala Richter, Minggu pukul 18.27 WIB. Menurut BMG gempa ini berpotensi tsunami.


Setelah gempa pertama, setidaknya tercatat 7 kali gempa susulan, namun dengan kekuatan yang lebih rendah, sekitar 5,1 skala Richter. Dan gempa susulan ini tidak berpotensi tsunami.


Apa yang terjadi di Menado, hingga kini masih terus dipantau, belum jelas apakah terjadi tsunami atau tidak. Apalagi terjadi gangguan hubungan telepon ke kota itu.


Ya Allah, semoga tidak terjadi apa-apa..

Selasa, 29 Agustus 2006

Gempa Maluku (Up date)

Baru saja di tv ada peringatan dini Tsunami dari BMG.


Pukul 20.38 WIB terjadi gempa 6,4 skala Richter.


Lokasi di Barat Daya Tual, Maluku.


Gempa ini berpotensi Tsunami.


Bagi rekan-2 MP yang ada di Maluku dan sekitarnya mungkin bisa memberi laporan...


Update: Ternyata BMG meralat pernyataan awalnya. Pukul 21.30 BMG menyatakan gempa di Tual tidak berpotensi Tsunami. Waduh gimana nih BMG, kok sering banget membuat pernyataan yang mudah diralat. Gimana kita mau percaya dengan peringatan dini tsunami kalau begini.


Ini bukan kejadian pertama. Sebelumnya, BMG juga pernah membuat pernyataan serupa yang kemudian diralat. Kenapa bisa begini BMG??? 

Gempa Maluku (Up date)

Baru saja di tv ada peringatan dini Tsunami dari BMG.


Pukul 20.38 WIB terjadi gempa 6,4 skala Richter.


Lokasi di Barat Daya Tual, Maluku.


Gempa ini berpotensi Tsunami.


Bagi rekan-2 MP yang ada di Maluku dan sekitarnya mungkin bisa memberi laporan...


Update: Ternyata BMG meralat pernyataan awalnya. Pukul 21.30 BMG menyatakan gempa di Tual tidak berpotensi Tsunami. Waduh gimana nih BMG, kok sering banget membuat pernyataan yang mudah diralat. Gimana kita mau percaya dengan peringatan dini tsunami kalau begini.


Ini bukan kejadian pertama. Sebelumnya, BMG juga pernah membuat pernyataan serupa yang kemudian diralat. Kenapa bisa begini BMG??? 

Gempa Maluku (Up date)

Baru saja di tv ada peringatan dini Tsunami dari BMG.


Pukul 20.38 WIB terjadi gempa 6,4 skala Richter.


Lokasi di Barat Daya Tual, Maluku.


Gempa ini berpotensi Tsunami.


Bagi rekan-2 MP yang ada di Maluku dan sekitarnya mungkin bisa memberi laporan...


Update: Ternyata BMG meralat pernyataan awalnya. Pukul 21.30 BMG menyatakan gempa di Tual tidak berpotensi Tsunami. Waduh gimana nih BMG, kok sering banget membuat pernyataan yang mudah diralat. Gimana kita mau percaya dengan peringatan dini tsunami kalau begini.


Ini bukan kejadian pertama. Sebelumnya, BMG juga pernah membuat pernyataan serupa yang kemudian diralat. Kenapa bisa begini BMG??? 

Selasa, 25 Juli 2006

Kabar Gempa dari BMG

Baru saja di tv BMG bikin pengumuman peringatan gempa. Bunyinya kira-kira begini "Telah terjadi gempa 4,9 Skala Richter pk.21.01 WIB, letaknya 202 km barat daya Cilacap Jawa Tengah, dengan kedalaman 33 km. Gempa ini tidak berpotensi menimbulkan tsunami".


Beda dengan saat percobaan Sabtu malam lalu yang ngeblok layar tv, kali ini pengumuman dipasang di sudut kiri bawah layar tv, dengan ukuran kecil. Sehingga tidak mengganggu kenikmatan menonton tv.

Rabu, 19 Juli 2006

Gempa Oh gempa!

Petang itu, ibukota tak terlalu ramah. Suasana agak mendung setelah seharian panas membara. Baru saja kubasuh tubuh ini dengan air, saat kudengar istriku memekik, “Apa, ada gempa?”.


 


Aku yang tengah asyik di kamar mandi langsung ciut. Gempa? Kapan, kok aku tak merasakan? Seberapa hebatkah ‘goyangannya’? Semula hendak kuselesaikan saja ritus mandiku, tp sudahlah, toh aku tak merasakan gempa, pikirku. Lagipula tanggung baru keramas.


 


Dan pertanyaan itu baru terjawab seusai mandi.


 


Sejumlah tetangga berhamburan keluar rumah, ramai dengan cerita masing-masing.


 


Oh, ternyata gempanya 6,2 skala Richter,  mengguncang Jakarta dan Banten. Pusat gempa memang di selat Sunda, tapi guncangannya sampai di jantung ibukota. Begitu pula di tempat tinggal kami, di Cibubur, Jakarta Timur.



 


Sayang seribu sayang kegemparan mengenai gempa di rumah kami diakhiri dengan meledaknya tangis Nabila, putri kami. Dia ketakutan sangat. Dia anggap gempa ini akan sama dengan yang ia lihat di tv, merusak semua rumah dan bangunan, sehingga kita akan kehilangan rumah. “kakak takut ayah, nanti rumah kakak rusak ….., kakak gak mau rumahnya rusak, nanti kita tinggal dimana?”


 


Aku dan istri hanya bisa membujuk sembari menjelaskan tidak semua gempa merusak seperti di Aceh dan Yogya.


 


Tapi, ada yang bikin kami terperanjat, saat ia katakan pernyataan bernada gugatan, “Kenapa Allah kasih kita gempa?” Nah, lho! Pertanyaan yang kami sendiri tak menyangka bisa keluar dari mulut mungil putri kami.


 


Saya kok jadi sedikit merasa bersalah telah mengenalkan berita bencana dari berbagai media pada putri kami yang baru 5 tahun ini. Ah……

Sabtu, 03 Juni 2006

Cerita Kecil dari Klaten


Pasca gempa di Yogya dan Jateng, seorang kawan, sebut dia Agus Klaten masuk kantor setelah beberapa hari mudik ke kota kelahirannya, dengan cerita mengharukan. Kepulangannya ke Klaten bukan untuk wisata atau kangen-2an, tapi menengok orang tua dan keluarganya pasca gempa. Ia berangkat ke Klaten saat hari-H gempa, Sabtu siang.

Agus cerita, rumah keluarganya di Klaten ambruk tak berbekas karena gempa. Untungnya, semua anggota keluarganya selamat, sehat wal afiat. Paling hanya menderita luka ringan di tangan dan kaki. Syukur alhamdulillah, kataku.

Tapi, lanjutnya, setelah itu justru cerita miris yang terdengar. Ibunya tak bisa mendengar suara gemuruh sedikitpun. Mendengar suara sepeda motor langsung kabur ketakutan. Adiknya yang kelas 1 SD menjerit ketakutan mendengar desau angin kencang. Belum lagi perasaan nelangsa yang keluar saat memandangi bangunan rumah mereka kini tak lagi bersisa.

Sang adik dengan keluguannya sambil menangis kerap berucap,"Mak, rumah kita ndak bisa ditempati lagi....kita nanti tinggal dimana, Mak." Mereka yang mendengar hanya urut dada pilu.

Saat bersama anggota keluarga adalah waktu paling berharga bagi korban gempa. Biasanya mereka bisa berbagi cerita, tentang apapun. Seolah duka yang tengah mereka rasakan, bukanlah beban. Tapi, usai semua keluarga berlalu pulang atau istirahat, yang bersisa hanya kehampaan. Merenung, merenung dan merenung. Duh!

Hingga 4 hari pasca gempa, keluarga kawan di Wedi, Klaten ini tak berani tidur di dalam rumah atau bangunan. Mereka milih tidur di tanah, atau diatas tikar, sebab tak ada tenda darurat atau kasur bersisa. Karena sepanjang mata memandang, rumah warga di desa ini tak ada yang utuh lagi.

Agus bahkan berkisah, ia terpaksa ikut menjarah bantuan pangan yang sempat lewat di desanya. Kalau tak ikut menjarah, ia khawatir adik-adiknya yang kecil atau emak-bapaknya tak kebagian makanan. Cara lain yang ia lakukan untuk bisa bertahan hidup adalah dengan mengemis di jalan raya, berharap sedekah dari orang lewat untuk membeli penganan sekedarnya. "Abis bantuan belum satupun yang masuk khusus ke desaku," ujarnya. Bantuan yang mereka jarah, sebenarnya adalah bantuan yang nyasar ke desa tetangga yang tak seberapa parah.

Ia juga bercerita, seorang tetangganya yang pernah merawatnya semasa kecil dulu, ditemukan tewas gantung diri dengan stagen, karena tak kuat menanggung derita. Si mbok tak kuat harus mencari makan seorang diri, setelah suaminya tewas karena gempa. Belum lagi bayangan tak memiliki rumah, membuat ia depresi dan memilih mengakhiri hidup dengan cara seperti itu. Aduh!

Agus berkisah tanpa ekspresi kesal pada pemerintah. Baginya, ini nasib, tak perlu ada yang dipersalahkan. Karena tak ingin keluarganya menderita, kini keluarganya terpaksa ia titipkan ke sejumlah saudara di Sragen.




Jumat, 02 Juni 2006

Himbauan Untuk Penyumbang Gempa


Bagi kawan-2 yang hendak menyumbang korban gempa, himbauan ini mungkin ada gunanya.


====================================
Harap kepada masyarakat Nasional dan International
belajar dari pengalaman gempa di Aceh dan Nias untuk:

1.
Tidak menyumbangkan bantuan berupa susu bubuk. Apalagi susu formula. Maksud baik Saudara-saudara bisa disalurkan dengan bantuan air dalam Kemasan jauh lebih bermanfaat. Tanya kenapa? Karena dalam keadaan
darurat seperti pasca gempa bumi di Yogya, air bersih siap minum akan susah didapat
dan perilaku untuk memasak air sampai betul-betul mendidih sulit dilaksanakan. Karena ketidakterserdiaannya kompor dan bahan bakar memasak.


 


Penggunaan susu bubuk dan susu formula dengan metode yang kurang benar dan tempat minum yang tidak bersih, malah akan menimbulkan wabah diare di kalangan korban bencana.


 


2. Tidak menyumbangkan botol dot, alasannya sesuai dengan sebab di atas.

Sumbangkanlah Hand Sanitizer dan Sabun yang banyak, karena akan melindungi anak dan kita dari diare. Ingat 50% perlindungan dari penyakit cukup di dapat dari cuci tangan dengan sabun.

Memang susu bubuk / formula itu enak dan disukai orang dewasa dan anak/bayi, namun mohon dipahami, dalam keadaan tanggap darurat seperti ini, mendorong ibu-ibu dan mendukung gizi mereka optimal dengan makanan (bukan susu bubuk juga) agar terus dapat menyusui anak-anak mereka merupakan tindakan paling tepat.



Air susu ibu merupakan sumber gizi teraman, Termurah, Praktis, dan Terlengkap. Terlengkap bagi anak 0 – 6 bulan.


Dr BUDHI SETIAWAN
Health and Nutrition
UNICEF Indonesia
Banda Aceh

For every child
Health, Education, Equality, and Protection
ADVANCE HUMANITY