Minggu, 08 Maret 2009

The Road to the Empire; Kisah Takudar Khan Pangeran Muslim Pewaris Mongol

Rating:★★★★
Category:Books
Genre: Literature & Fiction
Author:Sinta Yudisia
Penerbit : Lingkar Pena Publishing House, 2008
Tebal : 573 hal.

Apa yang terpikir mengenai Mongol? Bagi penikmat sejarah Asia Timur mungkin tak terlalu sulit menguraikannya. Karena Mongol yang terletak di daratan Cina, di masa silam punya sejarah panjang kekaisaran.

Dan jika nama Jenghiz Khan disodorkan, pasti lamat-lamat sebagian dari kita merasa sangat mengenalnya. Ya, dialah kaisar Mongol masa lalu yang sangat terkenal. Terkenal bukan hanya lantaran kepemimpinannya yang tangguh, tapi juga kebengisannya.

Namun bagi yang tak terlalu aware dengan Mongolia, pasti akan sulit mengurai sejarah panjang kekaisaran Mongol. Saya termasuk yang tak terlalu mengikuti sejarah Mongol. Itu mengapa membaca buku The Road to the Empire; Kisah Takudar Khan Pangeran Muslim Pewaris Mongol karya Sinta Yudisia, awalnya saya bayangkan akan banyak kerumitan menyertai pemahaman saya yang minim mengenai Mongol.

Apalagi di bagian awal Sinta menggunakan banyak kata yang kurang familiar bagi saya, macam apa itu hooves, tolgoin, shanaavch sampai terleg del. Untungnya Sinta selain menggunakan juga menyisipkan arti kata-kata tersebut. Sehingga saya bisa paham kalau itu adalah bagian busana prajurit Mongol.

Imaji saya pun mulai terbangun. Agak teringat dengan filmnya Yusril Ihza Mahendra tentang Laksamana Cheng Ho. Meski sangat berbeda, tapi setidaknya saya bisa membayangkan dimana bagian busana itu digunakan prajurit Mongol.

Selesai? Enggak juga. Persoalan kedua adalah bagaimana menempatkan pemahaman para tokohnya. Kemiripan nama juga menjadi persoalan bagi saya membedakan satu karakter dengan karakter lain. Misalnya, Ada trio (sayangnya bukan trio macan!) Takudar, Arghun, dan Buzun yang namanya sama diakhiri nama marga Khan. Belum lagi ada nama Albuga dan Tuqluq Timur Khan. Wah, pe-er besar tuh untuk memahaminya.

Pemahaman saya mulai agak cair saat Sinta menceritakan perempuan di sekitar ketiga pangeran macam Almamuchi, Urghana hingga Han Siang. Ternyata peran perempuan-perempuan itu lah yang berhasil membetot perhatian saya lebih mudah. Ada sosok yang setia, ada sosok yang culas, bahkan ada yang siap berkorban demi menyenangkan keluarga dalam hal jodoh.

Melalui tokoh perempuan itulah saya bisa masuk ke akar persoalan sesungguhnya. Dengan caranya bertutur yang sangat detil dan mengalir, Sinta benar-benar tak memberi kesempatan saya melepaskan sedikitpun kisah intrik perebutan kekuasaan di novel ini.

Saya tak bisa membayangkan berapa lama Sinta melakukan riset mendalam mengenai sejarah Mongol beserta tokoh-tokohnya. Karena apa yang tersaji di novel ini bukan saja deretan peristiwa sejarah, namun juga dengan konteks. Sinta berhasil menghadirkan sejarah dengan caranya. Tidak menggurui seperti cara guru sejarah di negeri ini. Tidak juga memaksa kita untuk memahami persoalan dengan cara yang pelik.

Intrik perebutan kekuasaan yang menjadi titik sentral cerita novel ini, seolah menggambarkan situasi yang tengah terjadi di negeri ini. Pemilu dan segala macam perniknya yang kini tengah disiapkan KPU, sebenarnya punya muara yang sama, yakni perebutan kekuasaan. Tinggal bagaimana cara merebut kekuasaan itu. Apakah menggunakan cara yang digunakan Khan bersaudara atau cara ’halus’ yang kita sebut demokrasi.

Penulis mampu membumikan kisahnya dengan aliran bahasa yang ringan, enak dan ritmis. Sehingga lebih dari 500 halaman tak begitu terasa tebalnya. Ia begitu pandai menghadirkan Mongol seolah nyata di hadapan kita. Saya yang semula sangsi bisa menyerap buku ini dengan keminiman pemahaman mengenai Mongol, berani bertaruh siapapun pasti bisa menikmati keindahan bahasa dan cara bertutur Sinta.

Meski ini novel pertama Sinta yang saya baca, saya berani pula memberikan gelar Sinta adalah pencerita yang memesona. Tak salah mengapa buku ini mendapat award sebagai buku fiksi terbaik di Islamic Book Fair 2009 baru-baru ini. Selamat buat Sinta atas kemenangannya.

Sabtu, 28 Februari 2009

Akhirnya Jadi Roker!

Pagi tadi KRL ekonomi tiba di stasiun Pondok Cina Depok. Tergesa saya melangkahkan kaki menuju kereta yang baru tiba. Ups...dari luar kuamati isi gerbong..wah penuh! Beberapa penumpang berdiri bersinggungan, berdesakan. Langkah yang tadi ringan perlahan berhenti. Sayapun mundur teratur.

Ternyata saya tak punya cukup nyali ikut berdesakan dalam gerbong KRL Jabotabek. Saya memilih balik kanan menukar tambah tiket yang cuma 1.500 perak itu dengan tiket AC ekonomi yang 6 ribu perak.

Meski diawal tak dapat tempat duduk, jelas kereta AC jauh lebih nyaman. Penumpang masih bisa berdiri dengan nyaman sambil berpegangan tentunya. Di kereta ini tak ada pengasong atau pengamen. Tapi kalau pencopet? Entahlah.

Ini merupakan hari pertama saya jadi anak Roker, alias rombongan kereta. Kepindahan  kantor dari taman mini ke kawasan kebon sirih, memaksa saya mencari moda angkutan yang paling cepat dan nyaman.

Setelah 2 hari mencoba menggunakan motor, akhirnya saya memilih menjadi 'roker'. Bukan apa-apa, naik motor melelahkan, 1,5 jam dari rumah membuat pegal badan. Apalagi rute yang saya lalui menuju kantor lumayan macet dan padat. Meliuk-liuk diantara kerumunan kemacetan butuh konsentrasi ekstra, beberapa kali saya nyaris ketabrak bis. Itulah mengapa akhirnya saya menggunakan kereta api.

Selain relatif murah dan nyaman, naik kereta menghemat waktu saya di jalan. hanya 40 menit dari Depok ke kantor. Turun dari stasiun Gondangdia tinggal jalan kaki ke kantor. Gimana nggak enak?? 

Selasa, 24 Februari 2009

I Hate Facebook!

Eits, itu bukan perkataan saya lho! Itu adalah kejengkelan seorang kawan yang sempat sempat curhat. Ia kesal dan memutuskan ‘membunuh’ account facebooknya. Lho, kok segitunya?

Dia jelaskan semuanya. Ia terlibat pertengkaran dengan sang suami lantaran facebook. Rupanya sang suami di account facebooknya tak mencantumkan status hubungan mereka yang sudah setahun menikah. Sudah gitu tak ada satupun foto mereka berdua yang dipajang sang suami. Justru foto sang suami yang sedang gaul dengan kawan-kawan ceweknya yang banyak dipajang.

Karena merasa tak dihargai sang suami, akhirnya kawan saya tadi menutup account facebooknya. Agak aneh menurut saya, karena dia dikenal sebagai anak yang gaul. Menutup account berarti memutus rangkai pertemanan dengan kawan-kawan gaulnya. Karena suka tidak suka, situs buku wajah ini menjadi ’tempat’ termudah untuk saling sapa saat ini.

Barangkali kawan saya yang satu itu adalah korban kesekian dari fenomena facebook yang mewabah akhir-akhir ini. Sebelumnya saya juga pernah dengar kabar ada pasangan yang bercerai gara-gara facebook. Sang istri marah besar lantaran status sang suami masih dipajang single di facebook. Akibatnya, banyak gadis yang mengajaknya kencan. Dasar sang suami memang playboy, terbongkarlah semua perselingkuhannya. Ujung-ujungnya sang istri memilih bercerai.

Wah, sedrastis itukah dampak sebuah situs pertemanan?

Tak dapat dipungkiri keberadaan facebook membuat banyak kalangan di dunia seperti terkena sindroma baru. Mereka yang tadinya gaptek dan ogah bersentuhan dengan internet, karena melihat trend facebook memaksakan diri masuk dalam dinamika situs pertemanan ini. Bagi mereka yang terbisa memilah informasi pribadi yang sifatnya publik dan mana yang privat, tentunya tak terlalu bermasalah saat harus ’menelanjangi’ atau ’ditelanjangi’ dirinya di facebook.

Tapi bagi mereka yang introvert, yang kerap menyimpan rapat informasi pribadinya, situs semacam facebook memang merepotkan. Karena nyaris tak ada ruang untuk bersembunyi dari publik. Bayangkan, meski kita hanya memberikan data yang paling minimal, seperti nama, dan alamat email sekalipun. Tiba-tiba ada kawan lama yang mengenali kita dan mengirimkan foto-foto jadul. Mungkin maksud di pengirim hanya untuk nostalgia dan lucu-lucuan. Tapi kemudian bisa jadi si penerima merasa ditelanjangi, tatkala banyak komentar mengenai behind the foto yang muncul.

Sekali lagi, teknologi maju seperti internet memang butuh kedewasaan tersendiri dari penggunanya. Menyalahkan internet atau situs pertemanan maya saat muncul persoalan adalah tidak bijak. Karena bangaimana pun juga semua kembali ke masing-masing individu.

Internet dan juga situs pertemanan lainnya hanyalah produk teknologi yang memudahkan manusia. Manusialah yang harusnya mengendalikan itu semua, bukan manusia yang takluk pada teknologi.

Anehnya, meski Facebook dipersoalkan akhir-akhir ini, MP kok gak pernah ya? Atau ada cerita seputar MP yang gak muncul ke permukaan?

Senin, 26 Januari 2009

Sandal Jepit Cinta

Apa pemberian orang yang paling berharga menurut anda? Pasti jawabannya barang mahal dan antik, bernilai tinggi. Barang itu bisa berupa permata, pakaian, sepatu, atau yang memorize sifatnya.

Tapi, pernahkah anda menerima sandal jepit, dan anda begitu menyayanginya? Saya agak sangsi sebagian kita sangat sayang dengan benda yang biasa diinjak ke kamar mandi itu.

Minggu malam, Ihsan anak sulung saya terlihat sangat terpukul lantaran kehilangan sandal jepitnya di mushola perumahan kami. Ia menangis terisak-isak, karena sandal yang usianya baru sekitar 3 mingguan itu, hilang saat lomba tahun baru islam di mushola sore tadi.

Sandal jepit berwarna coklat itu harganya tak seberapa, mungkin cuma beberapa puluh ribu rupiah. Saya tak tahu pasti harganya.

Tapi bagi Ihsan, sandal itu punya nilai yang dalam sekali. Sandal itu diberikan sang kakek (ayah saya) saat ia disunat awal Januari silam. Sandal itu kerap menemaninya ke sekolah, karena di sekolah diharuskan membawa sandal jepit untuk berwudhu.

Sandal itu punya arti yang khusus bagi Ihsan karena pemberian mbah Kakungnya. Ia memang punya hubungan khusus dengan mbahnya, yang siapapun tak bisa menjelaskannya. Bahkan saya sekalipun.

Ihsan cucu pertama di keluarga saya. Bagi bapak dan ibu, ia adalah permata keluarga. Ia hadir saat kepedihan sedang melanda keluarga kami. Saat itu kami didera cobaan berat, dan Ihsan mengisi hari-hari kami. Bapak dan ibu yang sempat 'jatuh' , saat kelahiran Ihsan tiba-tiba seolah mendapat semangat baru yang luar biasa. Kami bisa rasakan itu!

Itu makanya Ihsan dan mbah kakungnya memiliki hubungan unik. Keduanya kompak banget sejak dulu. 

Rupanya sandal hanya perantara hubungan diantara mereka. Sandal itu memberinya semangat karena diberikan mbah kakung dengan segenap cintanya.

Hingga tulisan ini dibuat, saya belum berhasil mengorek keterangan dari Ihsan, karena ia langsung tertidur setelah kehilangan sandalnya.

*gbr ihsan after sunat.

Senin, 05 Januari 2009

Ninis Sakit DB




Ninis dalam berbagai pose, sejak masuk RS Meilia, 27 Des'08 hingga pulang 3 Januari 2009.

Dari wajahnya terlihat perubahan, mulai dari layu, membaik hingga segar.

Semoga ini tak pernah terulang lagi untuk siapapun. Karena DB sulit dilacak awalnya. Panas di awal sakit selalu didiagnosa sebagai radang atau typhus. Jika orang tua abai, bisa2 anak kita 'lewat'.

Pelajaran terbesarnya: Sabar, sabar dan sabar. Dengan sabar kita bisa berpikir lebih rasional. Dan pikiran rasional dibutuhkan untuk mengambil tindakan cepat jika sewaktu-waktu terjadi hal yang tak terduga.

Oh ya, 6 hari di RS Ninis melewatkan 2 tahun baru, hijriah dan masehi. Sedih juga melihat kakaknya bawa terompet ke RS tanpa bisa kemana-mana. Malam tahun baru kita habiskan dari balik jendela, dengan kilatan kembang api dari warga di sekitar Cibubur.

Minggu, 04 Januari 2009

Ihsan dikhitan

Sabtu lalu, dengan diantar pakde, mbah kakung dan ayah, Ihsan dikhitan di rumah sunatan, Cimanggis Depok. Saya pilih tempat ini berkat rekomendasi beberapa kawan, karena menggunakan metode baru smart klamp, teknologi Belanda yang difranchise dari Malaysia.

Apa kelebihan smart klamp? Proses sunatnya tidak banyak mengeluarkan darah, perawatannya mudah, setelah disunat sudah bisa menggunakan celana dan beraktivitas. Poin terakhir itulah yang membedakan dengan metode lainnya.

Proses sunat pun lumayan cepat. Datang pukul 05.30, daftar, menunggu dokter, tunggu giliran dan sunat cuma 15 menit.

Berbeda dengan tempat lain, rumah sunatan didesain ramah bagi anak-anak. Desain interiornya banyak dihiasi poster besar tokoh kartun. Sebelum 'eksekusi', pasien dialihkan perhatiannya dengan menonton film kartun.Tujuannya agar pasien tidak takut dan lebih rileks.

Kalau ada yang mengganjal, mungkin biayanya. Untuk sunat dengan metode smart klamp biayanya 750 rb rupiah. Tapi penanganannya cukup baik, dengan tenaga medis dokter yang masih muda dan sangat mengerti anak-anak.

Oya, selain di Depok, rumah sunatan juga ada di Bintaro, Cipinang, Kayu Putih, Surabaya, Medan dan Semarang.

*Ihsan beberapa saat sebelum disunat

Alhamdulillah!

Hari yang berat dan melelahkan akhirnya lewat juga.

Akhir tahun yang biasanya diisi dengan keriaan, kali ini kami lewati dengan penuh keprihatinan. Persis tahun baru hijriah, sibungsu Ninis masuk rumah sakit Meilia Cibubur karena vonis DBD. Awalnya kami kira dia hanya panas biasa. Tapi kami curiga karena hingga hari ketiga panasnya belum juga usai.

Karena takut ada apa-apa, tes darah jadi rujukan. Ternyata benar dugaan kami, trombositnya di bawah normal, sudah 131 rb. Vonis DBD pun kami amini. Apalagi Ninis adalah orang ke-11 di komplek kami yang diopname karena DBD.

Di opname kondisinya naik turun, apalagi dia susah minum-makan dan minum obat. Padahal kunci pengobatan DB adalah banyak asupan makan dan minum untuk meningkatkan trombosit.

Banyak saran yang mampir ke kami, pakai inilah, itulah. Tapi kami sepakat untuk menggunakan sari kurma, karena alasan rasanya pasti disuka Ninis. Setelah masuk dengan trombosit 131 rb, trombonya turun ke 54 rb, 56 rb, 50 rb, 95 rb, dan sebelum pulang 150 rb.

Selama Ninis dirawat, saya pontang-panting dari RS - rumah - kantor. Anak sakit kok masuk kantor? Begitu yang dipertanyakan sejumlah kawan. Saya memang gak mungkin cuti, sebab dua kawan se-program sudah cuti duluan.

Pontang-panting lainnya karena si sulung akan dikhitan. Bunda menyarankan untuk di'cancel' aja sunatannya. Wah sudah dipesan semua, kalau dibatalkan pasti kena penalti. Akhirnya kami maju terus. Bunda mengurus printilan acara melalui hand phone-nya, saya dapat tugas mondar-mandir sampai nyebar undangan tetangga hingga telpon kerabat.

Sempat ketar-ketir juga lantaran saat hari-H si sulung, Ihsan dikhitan Ninis dan bunda masih di RS. Akhirnya siang harinya Ninis sudah boleh pulang.

Alhamdulillah acara syukuran khitanan Ihsan berjalan lancar dan Ninis kini sudah berada di tengah keluarga kembali. Benar-benar kado awal tahun yang luar biasa bagi kami sekeluarga. Melewatkan dua Tahun Baru di rumah sakit, membiarkan anak2 liburan sendiri di rumah, hingga ngantor saat anak sakit...