
| Rating: | ★★★★ |
| Category: | Books |
| Genre: | Literature & Fiction |
| Author: | Andrea Hirata |
Judul : Sang Pemimpi
Pengarang : Andrea Hirata
Penerbit : Bentang, Yogyakarta, 2006
Apa yang lebih dahsyat dari sebuah mimpi?
Bermimpi bisa jadi merupakan katalisator bagi seseorang keluar dari dunianya. Kegiatan bermimpi juga bisa dikatakan sebagai kegiatan paling azasi, yang bisa dilakukan setiap orang. Rasa-rasanya tak ada pelanggaran azasi saat kita tengah bermimpi.
Dan bagi yang percaya pada kekuatan mimpi dan perjuangan, buku karya Andrea Hirata inilah jawabannya. Novel yang sangat personal bagi penulisnya ini, sebenarnya merupakan sedikit cerita masa lalu penulis yang kini bekerja di PT.Telkom Bandung.
Ceritanya bersetting Belitung, bagian dari propinsi Bangka-Belitung, nun diujung selatan sumatera sana. Sang Pemimpi meceritakan petualangan 3 serangkai Ikal, Arai dan Jimbron menggapai mimpinya sebagai tiga anak daerah terpencil di republik ini.
Ikal yang personifikasi sang penulis adalah tokoh sentral. Ia bercita-cita menaklukkan dunia dengan bersekolah ke luar negeri. Dan Perancis adalah impian terbesarnya. Bersama Arai, sahabatnya, hari-harinya dilalui dengan bekerja keras mewujudkan obsesinya.
Tidak selamanya lurus jalan yang ia daki. Bahkan ia harus bekerja serabutan saat sekolah. Namun semua itu dijalani dengan riang. Dengan bumbu kenakalan khas anak, cinta monyet remaja belasan tahun, novel ini mengajarkan banyak hal tentang kesederhanaan, kesetiakawanan dan perjuangan. Tiga hal yang kini amat sulit ditemui dalam kehidupan yang hedonis.
Bagian yang mengharukan menurut saya, adalah saat mereka harus berpisah selepas SMA. Ikal dan Arai merantau ke Jawa (baca: Jakarta) sementara Jimbron memilih tetap di Belitung. Jimbron yang berbicara gagap memberi hadiah celengan kuda yang selama ini ia tabung untuk kedua sahabatnya. Karena sadar kemampuan berfikirnya terbatas, ia memilih tidak ikut mewujudkan obsesi keliling dunia bersama kedua sahabatnya itu. Namun ia menitipkan celengan itu, sebagai bukti kesertaannya menggapai mimpi bersama.
Buku ini sebenarnya merupakan lanjutan Laskar Pelangi (LP) dan bagian dari tetralogi penulisnya. Meski belum sempat membaca LP, saya tetap bisa mengikuti buku ini hingga tuntas.
Sang penulis memang piawai membawakan ceritanya. Bahkan bahasa yang digunakan Andrea Hirata sangat indah. Penulis tampaknya mengembalikan keindahan bahasa pada porsinya. Padahal semula penulis tidak begitu yakin karyanya bisa terbit sebagai buku, mengingat ia tidak menggunakan bahasa gaul elu, gue di bukunya. Karena belakangan buku-buku sastra yang beredar di pasaran sangat "Jakarta". Sementara buku ini berada di luar jalur itu.