| Rating: | ★★★★ |
| Category: | Books |
| Genre: | Literature & Fiction |
| Author: | Khaled Hosseini |
"...lebih baik disakiti oleh kenyataan daripada dinyamankan oleh kebohongan"
Barangkali apa yang dikatakan tokoh Baba dalam buku ini merupakan refleksi anti kemapanan. Ia bersama anaknya memilih menyingkir keluar negeri di tengah situasi sosial politik yang tak menentu di Afganistan negerinya. Karena tak sepaham dengan rejim yang berkuasa, lebih baik ia menghadapi kenyataan yang pahit sebagai warga imigran di negeri baru.
Tapi apa yang dilakukan Baba--sang ayah, justru kebalikan dengan Amir--sang anak. Ia justru menyimpan 'kebohongan' masa kecilnya hingga dewasa, hanya demi melindungi kenyamanan diri. Amir menyimpan rapat kisah Hassan kawan kecilnya --yang juga anak hazara (pembantu)-- yang sempat 'disodomi' oleh seorang pemuda.
Di kemudian hari, Amir menyesal telah menjadi begitu pengecut saat Hassan disakiti dan tak mampu menolong. Ia juga menyesal (kemudian) karena ternyata Hassan adalah adik tirinya!
Kisah The Kite Runner sendiri memang berputar pada diri Amir dan Hassan. Keduanya dikenal jago mengejar layang-layang, kebiasaan yang sempat mentradisi di Afgan sebelum negeri ini hancur oleh perang saudara. Cukup unik, apalagi dibungkus dengan latar sosial politik Afganistan yang bergolak.
Yang cukup mengejutkan, Khaled Hosseini sang penulis adalah seorang dokter asal Afganistan. Gaya bertuturnya benar-benar mengalir, enak diikuti. Tak salah jika buku ini diganjar sebagai buku best seller oleh New York Times.
Seperti Amir, Khaled juga lari dari negerinya ke Amerika Serikat karena kondisi politik negerinya yang kacau balau. Ia memilih belajar kedokteran dan menetap di California hingga kini.
Kisah berlatar kehidupan Asia dan timur tengah memang menarik. Sebelum ini saya sempat kepincut dengan Jumpa Lahiri--pengarang asal India yang juga imigran di Amerika. Bukunya --Penafsir Kepedihan--benar-benar dahsyat. Saya seperti menjadi seorang India saat membacanya.
Namun berbeda dengan Khaled yang mengurai cerita tentang masa lalunya di Afgan, Jumpa justru banyak mengeksplor benturan budaya India di negeri barunya. Meski berbeda, karya kedua pengarang Asia ini sama-sama mendapat sambutan meriah di Amerika. Dan bukunya pun laris manis.