Alahamdulillah hari Minggu malam lalu akhirnya ibu tiba di Jakarta usai berhaji sejak 4 Desember 2006.
Perjalanan pulang cukup melelahkan buat seorang yang berusia di atas 60. Sebenarnya ibu sudah tiba di Padang hari Sabtu siang. Lantaran tak ada pesawat ke Jakarta, akhirnya menginap semalam bersama seluruh jemaah kloter 7 Padang asal Bengkulu.
Sebelum ke Jkt ibu transit di Bengkulu dan sempat berjam-jam pesawatnya delay. Di Padang selama 2 jam dan di Bengkulu 6 jam.
Penundaan keberangkatan pesawat mungkin hal biasa. Tapi ibu mengalaminya seorang diri di bandara Bengkulu. Apalagi Lion Air yang ditumpangi ibu tak memberi kompensasi apapun selain sebungkus nasi Padang!
Sudah gitu yang menyebalkan, petugas Lion di bandara Cengkareng tidak satu suara. Berkali-kali memberi informasi yang menyesatkan bagi kami keluarga yang ingin menjemput. Semula mereka mengatakan pesawat dari Jkt sudah terbang menuju Bengkulu sejak pukul 15. Kemudian diralat menjadi pukul 18. Ralat lagi jam 7 malam. Dan ternyata pesawat baru benar-benar take off jam 19.30. Duh!
++
Meski menghadapi kendala sepulang dari Padang, secara keseluruhan perjalanan haji ibu lancar. Kendala kesehatan yang semula kami khawatirkan bakal menghambat ibadah di tanah suci, ternyata tak terjadi. Selama di tanah suci kaki ibu yang sempat bengkak sebelum berangkat, sehat-sehat saja. Semua rukun haji pun dijalankan tanpa terlewat.
Ibu juga banyak mendapat kemudahan selama berhaji. Antara lain sempat memegang ka'bah, hajar aswad, dan melempar jumrah tanpa hambatan. Padahal kawan seperjalanannya yang jauh lebih sehat banyak menghadapi kendala, terutama saat menjalankan ibadah haji arbain.
Kesimpulannya, kalau punya tekad kuat untuk berhaji, semua kendala fisik maupun non fisik ternyata bisa dilampaui.
*Kapan ya, bisa bertamu ke rumah Allah?*