Tampilkan postingan dengan label tragedi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tragedi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 24 Mei 2007

Ada Apa Dengan Polisi Kita?

Nunuk Ariyanti terus menangis menatap jasad Briptu Nurhidayat dimasukkan ke liang lahat. Ia tampak sangat masgul melihat kekasih hatinya terbujur kaku dalam balutan kain kafan. Ia nyaris tak percaya dengan semua yang dilihat dan dialaminya. Karena belum seminggu ia dilamar sang kekasih. Bahkan hari Minggu 27 Mei ini, rencananya mereka akan mengikat janji sehidup semati.

Mestinya bukan kain kafan yang membalut tubuh Nurhidayat, tapi jas yang sudah disiapkan untuk akad nikah. Namun suratan takdir berkata lain, ia tewas ditembak mantan atasannya, AKP Ronny Pasaribu, di Merauke, selasa lalu. AKP Ronny sendiri kemudian bunuh diri dengan menembak kepalanya. Hingga kini motif penembakan belum jelas.

Sehari setelah penembakan itu, di Batam pun ada kasus serupa. Namun kali ini polisinya bunuh diri dengan merebut senjata petugas jaga.

Kisah diatas bukanlah fiksi, tapi benar-benar nyata. Ada apa sebenarnya dengan polisi kita. Mengapa begitu mudah menyalakkan senjatanya. Bahkan untuk membunuh sesama koleganya? Apa benar beban kerja dan tekanan hidup begitu tinggi, sehingga mengambil jalan pintas semacam itu.

Ini bukan kasus pertama. Sebelumnya kasus serupa juga pernah terjadi beberapa kali. Yang paling menghebohkan tentunya penembakan waka polwiltabes Semarang AKBP Lilik Purwanto oleh bawahannya yang terkena mutasi. Hanya karena menolak dimutasi, ia berbuat sembrono menembak sang atasan dan kemudian menembak dirinya sendiri.

Indonesia memang bukan Amerika yang peredaran senjata apinya cukup luas di masyarakat. Tapi berulangnya kasus semacam ini membuat miris. Mengapa polisi yang mestinya pelindung rakyat, kok malah tembak-2 an.

Harusnya di kepolisian ada sebuah komisi yang mengawasi peredaran senjata api di kalangan internal polisi, sehingga tetap terkontrol. Kalau polisinya saja saling tembak, bagaimana kami-kami ini yang sipil? Siapa yang melindungi kami pak Polisi...

Rabu, 14 Maret 2007

[Tragedi] Teganya Mercy

Kasus pembunuhan 4 anak oleh ibu kandung dan diakhiri dengan bunuh diri si pelaku di Malang, Jawa Timur mengungkap sebuah fakta yang mengejutkan. Mercy sang ibu ternyata sempat mengabadikan saat menjelang ajal ke-4 anaknya dengan kamera HP-nya. Hah!


Mengetahui hal ini mata saya terbelalak kaget. Astagfirullah, teganya kau Mercy! Meracuni anak sendiri saja sudah luar biasa. Ini malah ditambah dengan mengambil gambarnya. Duh, ada ya ibu yang setega itu..


Kasus ini memang belum berakhir, motif pembunuhan Mercy terhadap ke-4 anaknya masih belum jelas benar. Kejatuhan ekonomi keluarga disebut-sebut sebagai pangkal masalah sang ibu bertindak nekat. Kabarnya karena masalah ini, kehidupan keluarga pasangan Mercy dan Hendry Suwarno berubah drastis. Dua anaknya yang sekolah di sekolah elit di Malang pun kena imbasnya. Mereka kesulitan membayar uang sekolah yang tiap bulan mencapai 1 juta 150 ribu rupiah. Namun ini bukan tanpa solusi, karena pihak sekolah memberikan keringanan, dan mereka hanya cukup membayar 75 ribu rupiah per bulan.


Beban hidup yang menghimpit memang kadang 'membutakan' mata. Jalan pintas dengan membunuh anak yang tak berdosa dianggap sebagai solusi. Mercy dan juga pelaku lain seperti Anik Koriyah di Bandung, mungkin berpikiran, dengan membunuh anak-anaknya, ia telah menyelamatkan sang anak dari kehidupan yang keras.


Padahal salah. Sama sekali salah. Bunuh diri, menurut agama saya, adalah tindakan yang paling dibenci Tuhan.


Saya tak tahu bagaimana latar belakang kehidupan pelaku sebenarnya sehingga mengambil jalan pintas semacam itu. Seribu tanya menggelayuti pikiran sehat saya. Tak adakah tawaran solusi lain yang bisa dipertimbangkan. Tak adakah rekan, kerabat atau handai taulan yang siap membantu keluar dari persoalan dunia mereka?


Entahlah. Saya berharap ke-4 bocah yang manis-manis itu dapat tempat terindah di surga. Dan Mercy sang ibu diampuni dosa-dosanya. Oya, jasad kelima orang ini sudah dikremasi hari Rabu (14 Maret) di Malang.


*foto diambil dari sini.