Tampilkan postingan dengan label kematian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kematian. Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 April 2009

Kematian

Belakangan saya kerap mendengar berita kematian teman dan sahabat. Kemarin dulu saya dapat kabar kawan SD saya ternyata telah meninggal dunia lantaran sakit. Saya dapat kabarnya melalui jejaring Facebook.

Kemarin saya kembali mendapat kabar teman SD saya yang semasa kecil cukup dekat, ternyata juga telah pergi mendahului. Narkoba menjadi penyebab meninggalnya. Duh, sedih saya mendengar kabar itu. Karena dia pernah sangat dekat dengan saya di SD maupun SMP. 

Semasa kecil dulu saya kerap main ke rumahnya di Kebayoran Lama untuk membaca komik-komik Tintin koleksinya. Jika teman yang lain datang untuk melihat film Video, saya justru berkutat dengan komik-komik yang cukup banyak dikoleksinya.

Terakhir, saya mendapat kabar seorang kawan wartawan Kompas , Bambang Wahyu meninggal dunia setelah lebih setahun berjuang dari penyakit strokenya. Saya tak terlalu mengenal secara pribadi dengan BW, begitu inisial dan panggilannya, tapi saya adalah pembaca berita-beritanya saat dia ditempatkan di desk hukum dan HAM. Tulisannya lugas dan sarat data.

Di lapangan, BW adalah sosok periang, mudah bergaul dan menyenangkan. Saya justru lebih mengenal istrinya, Tingka Adiati saat dulu sama-sama di lapangan. Tingka bekerja untuk Indosiar, saya di Kuningan. Semoga Tingka dan keluarga tabah menghadapi ujian ini.

Apa yang bisa direnungkan dari kematian? Selain bahwa itu adalah rahasia ALLAH, kematian adalah sebuah giliran. Siapa yang bisa mengelak dari kematian? Presiden, penguasa, politisi, pengusaha, orang biasa, pengemis, atau artis? Semua tak  akan luput dari panggilan kematian. Tinggal bagaimana kita menyikapi sebuah kematian.

Apakah anda pernah memikirkan kematian?

Selasa, 05 September 2006

Sekali lagi soal Kematian


Ini masih lanjutan dari postingan sebelumnya. Setelah mendapat kabar duka beruntun akhir-akhir ini, saya berkhayal mendengar kabar baik, apapun itu. Tapi, hingga kemarin, selasa, saya tampaknya masih harus kembali mendengar kabar duka.


Saat masih di studio untuk mengawal siaran pagi, sekitar pukul 05.42, sebuah sms masuk. Saya pikir ini pasti dari bos. Biasanya kalau ada yang gak puas, dia selalu sms saat acara masih on-air. Eh, bukan. Ternyata dari nyonya di rumah. Bunyinya begini "Innalillahi wainalillahi rajiun Bpknya Inge meninggal".


Saya tercekat sebentar, tapi langsung bisa mengendalikan diri. Inna Lillahi.. Tetangga satu gang kami di Kranggan, Ludi Syamsudin dipanggil oleh sang Khalik dalam usia yang cukup muda, 43 tahun. Kematian bagi almarhum dan juga keluarganya, mungkin akan memberi keringanan. Karena selama lebih dari 2 tahun sang ayah diderita sakit berkepanjangan, yang memaksanya keluar masuk rumah sakit.


Duka ini adalah yang ketiga terjadi di gang kami. Sebelumnya tahun 2004, tetangga depan rumah kami dipanggil menghadap Illahi. Kemudian tahun 2005, tetangga sebelah kanan tembok rumah kami. Dan tahun ini di depan kanan rumah kami.


Ada seloroh beberapa rekan, setelah ini bisa jadi giliran si-A, atau si-B. Benar, kita memang menunggu giliran. Tapi seberapa bisa sih manusia meramalkan kematian? Bahkan meski ia ada di depan mata sekalipun? Biarlah kematian masih menjadi rahasia Allah. Saya tak mau dihantui ketakutan tak beradab mengenai kematian.

Sekali lagi soal Kematian


Ini masih lanjutan dari postingan sebelumnya. Setelah mendapat kabar duka beruntun akhir-akhir ini, saya berkhayal mendengar kabar baik, apapun itu. Tapi, hingga kemarin, selasa, saya tampaknya masih harus kembali mendengar kabar duka.


Saat masih di studio untuk mengawal siaran pagi, sekitar pukul 05.42, sebuah sms masuk. Saya pikir ini pasti dari bos. Biasanya kalau ada yang gak puas, dia selalu sms saat acara masih on-air. Eh, bukan. Ternyata dari nyonya di rumah. Bunyinya begini "Innalillahi wainalillahi rajiun Bpknya Inge meninggal".


Saya tercekat sebentar, tapi langsung bisa mengendalikan diri. Inna Lillahi.. Tetangga satu gang kami di Kranggan, Ludi Syamsudin dipanggil oleh sang Khalik dalam usia yang cukup muda, 43 tahun. Kematian bagi almarhum dan juga keluarganya, mungkin akan memberi keringanan. Karena selama lebih dari 2 tahun sang ayah diderita sakit berkepanjangan, yang memaksanya keluar masuk rumah sakit.


Duka ini adalah yang ketiga terjadi di gang kami. Sebelumnya tahun 2004, tetangga depan rumah kami dipanggil menghadap Illahi. Kemudian tahun 2005, tetangga sebelah kanan tembok rumah kami. Dan tahun ini di depan kanan rumah kami.


Ada seloroh beberapa rekan, setelah ini bisa jadi giliran si-A, atau si-B. Benar, kita memang menunggu giliran. Tapi seberapa bisa sih manusia meramalkan kematian? Bahkan meski ia ada di depan mata sekalipun? Biarlah kematian masih menjadi rahasia Allah. Saya tak mau dihantui ketakutan tak beradab mengenai kematian.