Kadang saya ingin kembali ke masa kecil dulu, 20-an tahun silam, saat saluran tv cuma ada satu, TVRI. Saat itu, menonton tv jadi ritual menyenangkan selain membaca. Ada beberapa acara tipi yang sampai kini membekas hebat dalam benak saya, dan mungkin jutaan anak Indonesia sejaman.
Saat itu rumah kami di Kebayoran Lama, Jakarta belum diterangi aliran listrik. Untuk menonton tipi, bapak harus men-charge 'aki'. Kalau 'aki' habis, biasanya numpang nonton ke tetangga satu kampung. Belum tentu sebelah rumah, karena dulu belum semua warga kampung kami yang memiliki tipi.
Saya dan juga kawan-2 seangkatan punya kegemaran tontonan yang sama, maklum nggak ada pilihan lain. Film-film seperti Chips, The Saint, Six Million Dollar Man, atau BJ & The Bear jadi teman kami sehari-hari. Kalau nggak nonton sekali, kayaknya rugi karena ketinggalan bahan obrolan dengan kawan di sekolah.
Tapi ada satu film yang luar biasa dahsyatnya bagi saya, bahkan hingga kini masih terkenang-kenang, yakni kisah keluarga Laura Inggals Wilder dalam Little House on The Prairie. Terlepas isinya yang mengajarkan prinsip-prinsip agama tertentu, namun tayangan ini memberi banyak hal. Misalnya persahabatan, nilai keluarga dan kekerabatan. Suatu hal yang mulai langka, setidaknya di ibukota Jakarta. Jujur, saya rindu pada film sejenis ini. Saya sumpek melihat tayangan sinetron yang hanya memotret kehidupan kelas atas, dan melupakan 'kehidupan' lain masyarakat kita, yang rata-rata masih miskin.
Kapan ya ada film atau sinetron lokal dengan cara bertutur seperti Little House?