| Rating: | ★★★★ |
| Category: | Movies |
| Genre: | Drama |
Sutradara : John De Rantau
Pemain : Albert Fakdawer, Ari Sihasale, Marcella Zalianty, Mathias Muchus, Nia Zulkarnaen.
Sudah lama tak menemukan film layar lebar lokal yang mencerahkan. Apalagi genre film remaja dan horror saat ini begitu mendominasi, maka kehadiran Denias bak oase yang menyegarkan.
Film ini disutradarai John De Rantau, dengan produser pasangan Ari Sihasale dan Nia Zulkarnaen. Film ini dibintangi sebagian besar pemain asal Papua, yang umumnya bermain natural.
Ide dasar film ini sesungguhnya ringan dan mungkin biasa, keinginan seorang anak untuk terus bersekolah. Tapi yang tidak biasa adalah anak itu dari pedalaman Papua, yang hidup ditengah adat Papua yang --maaf-- masih tertinggal dari saudaranya di propinsi lain di Indonesia.
Denias --diperankan dengan sangat memikat oleh Albert 'AFI junior'-- sama dengan kebanyakan anak Papua, senang sepakbola, berburu kuskus, dan bermain. Tapi dia juga senang belajar. Dari sekian anak yang sekolah di desanya, Denias cukup menonjol. Dia cepat bisa baca tulis, dan yang lebih penting kemauannya kuat untuk 'menembus awan'. Seperti dongeng yang diceritakan sang guru (Mathias Muchus) dengan menembus awan, Denias akan dapat melihat dunia lebih luas.
Keinginan Denias sekolah juga diperkuat pesan sang mama sebelum tewas terbakar, yang ingin Denias terus sekolah. Di film juga digambarkan bagaimana untuk bisa belajar di sekolah beneran di kota, Denias harus berlari berkilo-kilo meter, melewati pegunungan, sungai dan lembah. Dan dalam 4 hari perjalanan akhirnya sampai di Timika.
Di Timika, perjuangan baru dimulai agar ia bisa belajar di sekolah Freeport. Kelucuan dan keluguan seorang anak Papua banyak terlihat disini. Misalnya saat Enos --kawan Denias-- yang bandel dan suka mencuri diminta menunjukkan raportnya jika hendak sekolah di Freeport. Tahu apa yang dilakukannya, Enos harus berlari menembus bukit, gunung dan sungai sebelum memperoleh buku raportnya. Wow!
Intinya, Denias mengajarkan banyak hal tentang semangat belajar apapun, perkawanan, cinta sesama...sesuatu yang (mungkin) mulai luntur di kota-kota besar di tanah air.
Yang menarik, film ini dibungkus dengan pemandangan alam Papua yang wow keren.... Mata saya yang terbiasa melihat bangunan kotak-2 di ibukota dan kemacetan yang semrawut, di film ini dimanjakan dengan indahnya sungai, danau, lansekap puncak gunung bersalju, hutan yang alami dan budaya Papua yang eksotis. Gak salah kalau saya kasih 4 bintang untuk film ini.
Kalaupun ada yang mengganggu, mungkin editing yang beberapa agak 'jorok' sehingga kadang mengganggu. Terus juga pesan sponsor soal TNI -kopasus tepatnya- melalui tokoh Serma Hartawan yang biasa dipanggil Maleo (Ari Sihasale). Eh, ada juga soal iklan produk yang cukup mengganggu, seperti permen Blaster, mie Kare, odol Formula dan Freeport tentunya.
Tapi, lagi-lagi saya maklumi semua keanehan tadi. Secara keseluruhan bagooos!!
Oya FYI, Denias (yang nyata) kini sedang kuliah atas beasiswa Freeport di Darwin Australia.
*Saran saya bagi kawan2 yang punya anak usia sekolah, ajaklah menonton film ini, biar tahu "Indonesia yang lain".