Tampilkan postingan dengan label 17an. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 17an. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 Agustus 2008

17-an di Cibubur




Momen tercecer dari perayaan 17-an di komplek kami. Ini adalah momen pertama berkegiatan bersama, setelah setahun tinggal. Lumayan seru, hampir semua warga yang sudah menghuni rumah disini ikut serta.

Senang, karena bisa terbebas dari rutinitas sejenak. Biasanya sebagian besar kami disibukkan dengan pekerjaan masing-masing. Say hello hanya sempat saat berangkat kerja atau akhir pekan.

Meski tak banyak jenis lomba yang digelar, tapi mencakup semua kalangan usia. Untuk balita ada lomba menangkap ikan. Anak-anak ada lomba makan kerupuk, memasukkan paku di botol, memecahkan balon, serta bakiak race. Untuk ibu-ibu ada lomba balap karung dan bakiak race. Sementara kaum bapak ada lomba gaple, badminton dan tenis meja. Sedangkan untuk keluarga, digelar aerobik dan jalan santai.

Selain itu digelar pula Tasyakuran 17-an berisi renungan dari seorang sesepuh komplek. Di akhir acara juga ada malam ramah tamah serta pentas seni. Nabila sempat tampil menari Bali disini.

Sebagai warga saya ikut senang acara ini meriah. Kami juga bisa membaur sedemikian rupa dan melupakan perbedaan yang sempat muncul di masa awal tinggal di komplek ini. Semoga tahun depan lebih baik dan kami makin guyub.

Oya, berhubung ketua panitianya orang o-channel, acara ini juga diliput kru o-channel dan tayang di acara Gado-gado Jakarta, 19 Agustus 2008.

Minggu, 27 Agustus 2006

Malam 17-an




Acara kumpul-kumpul nan seru setahun sekali antar warga RT 001/ Rw.011 Kranggan Permai Bekasi. Lebih seru dari biasanya, karena banyak warga yang terlibat, mulai dari anak-anak hingga keluarga.

Bagi kami sekeluarga (mungkin) ini 17-an yang terakhir di lingkungan ini, karena kami berencana hijrah ke tempat lain tahun depan.

Selain pembagian hadiah, juga ada acara hiburan yang diisi marawis anak dan remaja, tari, hingga drama. Oya, di malam ini Nabila, putri kami tampil 3 kali menari.

Acara juga diisi dengan makan bersama hasil lomba tumpeng dari warga.

Di penghujung acara, ada lomba karaoke pulak. Sayang saya sekeluarga tidak sempat ikut, lantaran para kurcaci sudah '5 watt'.

Malam 17-an




Acara kumpul-kumpul nan seru setahun sekali antar warga RT 001/ Rw.011 Kranggan Permai Bekasi. Lebih seru dari biasanya, karena banyak warga yang terlibat, mulai dari anak-anak hingga keluarga.

Bagi kami sekeluarga (mungkin) ini 17-an yang terakhir di lingkungan ini, karena kami berencana hijrah ke tempat lain tahun depan.

Selain pembagian hadiah, juga ada acara hiburan yang diisi marawis anak dan remaja, tari, hingga drama. Oya, di malam ini Nabila, putri kami tampil 3 kali menari.

Acara juga diisi dengan makan bersama hasil lomba tumpeng dari warga.

Di penghujung acara, ada lomba karaoke pulak. Sayang saya sekeluarga tidak sempat ikut, lantaran para kurcaci sudah '5 watt'.

Malam 17-an




Acara kumpul-kumpul nan seru setahun sekali antar warga RT 001/ Rw.011 Kranggan Permai Bekasi. Lebih seru dari biasanya, karena banyak warga yang terlibat, mulai dari anak-anak hingga keluarga.

Bagi kami sekeluarga (mungkin) ini 17-an yang terakhir di lingkungan ini, karena kami berencana hijrah ke tempat lain tahun depan.

Selain pembagian hadiah, juga ada acara hiburan yang diisi marawis anak dan remaja, tari, hingga drama. Oya, di malam ini Nabila, putri kami tampil 3 kali menari.

Acara juga diisi dengan makan bersama hasil lomba tumpeng dari warga.

Di penghujung acara, ada lomba karaoke pulak. Sayang saya sekeluarga tidak sempat ikut, lantaran para kurcaci sudah '5 watt'.

Horee...Piala Kita Banyak!


Ini masih terusan dari jurnal inI, masih seputar cerita sisa 17-an. Kalau pekan lalu mengenai kegiatan di RW, kali ini di lingkungan tempat tinggalku di RT 001/ Rw.011 Kranggan Permai.


Sebenarnya pertandingan atau lomba 17-an nya sudah lewat, karena digelar teng tanggal 17 lalu. Karena diseling kegiatan di RW, maka pemberian hadiah dan malam ramah tamah baru digelar Sabtu malam (26 Agustus).


Acara malam itu adalah acaranya Nabila, karena di sini ia tampil menari 3 kali. Sudah gitu di 2 tarian ia termasuk penari terkecil, karena kawan tarinya semuanya sudah SD kelas 3 ke atas, sementara ia masih TK-B.


Ia seolah memberi bukti ke semua kawan-2nya yang lebih besar, ia pantas diperhitungkan. Sebab saat menjelang 17-an ia nyaris tidak diikutkan, karena masih terlalu kecil kata kawan-2nya. Dan, akhirnya ia berdiri paling depan, memimpin kawan-2nya menari.


Selain cerita Nabila menari, malam ini kami sekeluarga dapat tambahan 3 piala plus satu mug. Piala juara 1 didapat Nabila dari lomba Memindahkan bendera, Piala juara 3 Ihsan lomba Menyusun Gelas Aqua, serta piala beregu dari Ihsan juara harapan 1 lomba Futsal antar RT.


"Asyik Yah, piala kita nambah banyak...." celoteh Nabila saat kami pulang dengan piala kebanggan.


Oya, selain piala, bunda juga dapat hadiah lho. Meski cuma mug, tapi itu berkat kerja keras bunda bersama timnya, sehingga menyabet juara 1 nasi tumpeng. Semua anggota tim dapat mug yang sama. Sayang tumpengnya gak sempet di foto, keburu habis disikat...


So, ditambah yang didapat malam ini, berarti di 17-an ini kami mendapat 4 piala, satu diantaranya yang pekan lalu kami dapat tanpa rencana di lomba gerak jalan. Sekali lagi, buat kami bukan hadiahnya, tapi semangat anak-anak dalam berkompetisi serta menghargai proses untuk memperoleh sesuatu, itu yang jauh lebih penting.


Semoga tiga anak kami mengerti pada waktunya..


Foto lainnya bisa dilihat disini.

Horee...Piala Kita Banyak!


Ini masih terusan dari jurnal inI, masih seputar cerita sisa 17-an. Kalau pekan lalu mengenai kegiatan di RW, kali ini di lingkungan tempat tinggalku di RT 001/ Rw.011 Kranggan Permai.


Sebenarnya pertandingan atau lomba 17-an nya sudah lewat, karena digelar teng tanggal 17 lalu. Karena diseling kegiatan di RW, maka pemberian hadiah dan malam ramah tamah baru digelar Sabtu malam (26 Agustus).


Acara malam itu adalah acaranya Nabila, karena di sini ia tampil menari 3 kali. Sudah gitu di 2 tarian ia termasuk penari terkecil, karena kawan tarinya semuanya sudah SD kelas 3 ke atas, sementara ia masih TK-B.


Ia seolah memberi bukti ke semua kawan-2nya yang lebih besar, ia pantas diperhitungkan. Sebab saat menjelang 17-an ia nyaris tidak diikutkan, karena masih terlalu kecil kata kawan-2nya. Dan, akhirnya ia berdiri paling depan, memimpin kawan-2nya menari.


Selain cerita Nabila menari, malam ini kami sekeluarga dapat tambahan 3 piala plus satu mug. Piala juara 1 didapat Nabila dari lomba Memindahkan bendera, Piala juara 3 Ihsan lomba Menyusun Gelas Aqua, serta piala beregu dari Ihsan juara harapan 1 lomba Futsal antar RT.


"Asyik Yah, piala kita nambah banyak...." celoteh Nabila saat kami pulang dengan piala kebanggan.


Oya, selain piala, bunda juga dapat hadiah lho. Meski cuma mug, tapi itu berkat kerja keras bunda bersama timnya, sehingga menyabet juara 1 nasi tumpeng. Semua anggota tim dapat mug yang sama. Sayang tumpengnya gak sempet di foto, keburu habis disikat...


So, ditambah yang didapat malam ini, berarti di 17-an ini kami mendapat 4 piala, satu diantaranya yang pekan lalu kami dapat tanpa rencana di lomba gerak jalan. Sekali lagi, buat kami bukan hadiahnya, tapi semangat anak-anak dalam berkompetisi serta menghargai proses untuk memperoleh sesuatu, itu yang jauh lebih penting.


Semoga tiga anak kami mengerti pada waktunya..


Foto lainnya bisa dilihat disini.

Horee...Piala Kita Banyak!


Ini masih terusan dari jurnal inI, masih seputar cerita sisa 17-an. Kalau pekan lalu mengenai kegiatan di RW, kali ini di lingkungan tempat tinggalku di RT 001/ Rw.011 Kranggan Permai.


Sebenarnya pertandingan atau lomba 17-an nya sudah lewat, karena digelar teng tanggal 17 lalu. Karena diseling kegiatan di RW, maka pemberian hadiah dan malam ramah tamah baru digelar Sabtu malam (26 Agustus).


Acara malam itu adalah acaranya Nabila, karena di sini ia tampil menari 3 kali. Sudah gitu di 2 tarian ia termasuk penari terkecil, karena kawan tarinya semuanya sudah SD kelas 3 ke atas, sementara ia masih TK-B.


Ia seolah memberi bukti ke semua kawan-2nya yang lebih besar, ia pantas diperhitungkan. Sebab saat menjelang 17-an ia nyaris tidak diikutkan, karena masih terlalu kecil kata kawan-2nya. Dan, akhirnya ia berdiri paling depan, memimpin kawan-2nya menari.


Selain cerita Nabila menari, malam ini kami sekeluarga dapat tambahan 3 piala plus satu mug. Piala juara 1 didapat Nabila dari lomba Memindahkan bendera, Piala juara 3 Ihsan lomba Menyusun Gelas Aqua, serta piala beregu dari Ihsan juara harapan 1 lomba Futsal antar RT.


"Asyik Yah, piala kita nambah banyak...." celoteh Nabila saat kami pulang dengan piala kebanggan.


Oya, selain piala, bunda juga dapat hadiah lho. Meski cuma mug, tapi itu berkat kerja keras bunda bersama timnya, sehingga menyabet juara 1 nasi tumpeng. Semua anggota tim dapat mug yang sama. Sayang tumpengnya gak sempet di foto, keburu habis disikat...


So, ditambah yang didapat malam ini, berarti di 17-an ini kami mendapat 4 piala, satu diantaranya yang pekan lalu kami dapat tanpa rencana di lomba gerak jalan. Sekali lagi, buat kami bukan hadiahnya, tapi semangat anak-anak dalam berkompetisi serta menghargai proses untuk memperoleh sesuatu, itu yang jauh lebih penting.


Semoga tiga anak kami mengerti pada waktunya..


Foto lainnya bisa dilihat disini.

Senin, 21 Agustus 2006

Horee...juara gerak jalan


Ini sedikit cerita sisa 17-an. Hari Minggu (20 Agustus) saya, Ikom, Nabila dan sikecil Ninis ikut lomba gerak jalan santai keluarga antar RT di perumahan kami, Kranggan Permai. Sebenarnya saya agak malas juga ikut lomba, karena ngga enak sama ibu yang sedang menginap di rumah. Sudah jauh-2 berkunjung..eh ditinggal lomba pulak.


Tapi, berhubung nyonya rumah sudah mewanti-wanti sejak beberapa hari sebelumnya, ya saya ikut saja lah. Lagipula ibu kan tidak sendirian di rumah, masih ada si sulung Ihsan yang terpaksa tidak ikut lomba, lantaran kebentur aturan hanya 2 anak plus ortu yang boleh ikutan.


Meski lumayan semangat, saya tak punya target apa-apa ikut ajang yang baru kali ini digelar di RW kami. Buat lucu-2 an aja lah. Kendati kami jadi satu dari 3 tim yang mewakili RT, kami bener-2 tak berharap banyak. 


Sempat sih kepikiran untuk "jangan malu-maluin RT", namun karena persiapan yang mepet, maka kami urung tampil seragam. hanya dua bidadari kecil kami yang sempat dipadu padankan warna bajunya oleh sang bunda, selebihnya saya dan Ikom tampil apa adanya.


Benar juga, di lapangan RW, tim lain RT pada tampil meriah, dengan seragam keluarga yang sengaja dipersiapkan. Kami tak minder, karena tak punya target. Bahkan hingga melewati garis start, yang kami pikirkan hanya memberi pengalaman baru bagi anak-anak.


Di jalan, semua tim dengan semangat 45 saling susul, bahkan kami sempat kesusul hampir 7 tim di belakang. Kami benar-2 jalan santai, kalo ada yang menyusul..monggo..Apalagi saya harus memanggul Ninis yang kelelahan.


Untungnya jarak sekitar 5 kilometer-an bisa kami selesaikan dengan sukses.


Dan, ternyata kami juara pertama. catatan waktu kami yang terbaik dari semua tim yang baju seragamnya bagus-2 itu... hihi....


*keterangan gambar: 1.Ikom (kerudung) dan anak-2 (pegang plastik minuman) sebelum start. 2.Piala kemenangan itu. 3. Ayah, Ninis dan ...ondel-ondel

Horee...juara gerak jalan


Ini sedikit cerita sisa 17-an. Hari Minggu (20 Agustus) saya, Ikom, Nabila dan sikecil Ninis ikut lomba gerak jalan santai keluarga antar RT di perumahan kami, Kranggan Permai. Sebenarnya saya agak malas juga ikut lomba, karena ngga enak sama ibu yang sedang menginap di rumah. Sudah jauh-2 berkunjung..eh ditinggal lomba pulak.


Tapi, berhubung nyonya rumah sudah mewanti-wanti sejak beberapa hari sebelumnya, ya saya ikut saja lah. Lagipula ibu kan tidak sendirian di rumah, masih ada si sulung Ihsan yang terpaksa tidak ikut lomba, lantaran kebentur aturan hanya 2 anak plus ortu yang boleh ikutan.


Meski lumayan semangat, saya tak punya target apa-apa ikut ajang yang baru kali ini digelar di RW kami. Buat lucu-2 an aja lah. Kendati kami jadi satu dari 3 tim yang mewakili RT, kami bener-2 tak berharap banyak. 


Sempat sih kepikiran untuk "jangan malu-maluin RT", namun karena persiapan yang mepet, maka kami urung tampil seragam. hanya dua bidadari kecil kami yang sempat dipadu padankan warna bajunya oleh sang bunda, selebihnya saya dan Ikom tampil apa adanya.


Benar juga, di lapangan RW, tim lain RT pada tampil meriah, dengan seragam keluarga yang sengaja dipersiapkan. Kami tak minder, karena tak punya target. Bahkan hingga melewati garis start, yang kami pikirkan hanya memberi pengalaman baru bagi anak-anak.


Di jalan, semua tim dengan semangat 45 saling susul, bahkan kami sempat kesusul hampir 7 tim di belakang. Kami benar-2 jalan santai, kalo ada yang menyusul..monggo..Apalagi saya harus memanggul Ninis yang kelelahan.


Untungnya jarak sekitar 5 kilometer-an bisa kami selesaikan dengan sukses.


Dan, ternyata kami juara pertama. catatan waktu kami yang terbaik dari semua tim yang baju seragamnya bagus-2 itu... hihi....


*keterangan gambar: 1.Ikom (kerudung) dan anak-2 (pegang plastik minuman) sebelum start. 2.Piala kemenangan itu. 3. Ayah, Ninis dan ...ondel-ondel

Horee...juara gerak jalan


Ini sedikit cerita sisa 17-an. Hari Minggu (20 Agustus) saya, Ikom, Nabila dan sikecil Ninis ikut lomba gerak jalan santai keluarga antar RT di perumahan kami, Kranggan Permai. Sebenarnya saya agak malas juga ikut lomba, karena ngga enak sama ibu yang sedang menginap di rumah. Sudah jauh-2 berkunjung..eh ditinggal lomba pulak.


Tapi, berhubung nyonya rumah sudah mewanti-wanti sejak beberapa hari sebelumnya, ya saya ikut saja lah. Lagipula ibu kan tidak sendirian di rumah, masih ada si sulung Ihsan yang terpaksa tidak ikut lomba, lantaran kebentur aturan hanya 2 anak plus ortu yang boleh ikutan.


Meski lumayan semangat, saya tak punya target apa-apa ikut ajang yang baru kali ini digelar di RW kami. Buat lucu-2 an aja lah. Kendati kami jadi satu dari 3 tim yang mewakili RT, kami bener-2 tak berharap banyak. 


Sempat sih kepikiran untuk "jangan malu-maluin RT", namun karena persiapan yang mepet, maka kami urung tampil seragam. hanya dua bidadari kecil kami yang sempat dipadu padankan warna bajunya oleh sang bunda, selebihnya saya dan Ikom tampil apa adanya.


Benar juga, di lapangan RW, tim lain RT pada tampil meriah, dengan seragam keluarga yang sengaja dipersiapkan. Kami tak minder, karena tak punya target. Bahkan hingga melewati garis start, yang kami pikirkan hanya memberi pengalaman baru bagi anak-anak.


Di jalan, semua tim dengan semangat 45 saling susul, bahkan kami sempat kesusul hampir 7 tim di belakang. Kami benar-2 jalan santai, kalo ada yang menyusul..monggo..Apalagi saya harus memanggul Ninis yang kelelahan.


Untungnya jarak sekitar 5 kilometer-an bisa kami selesaikan dengan sukses.


Dan, ternyata kami juara pertama. catatan waktu kami yang terbaik dari semua tim yang baju seragamnya bagus-2 itu... hihi....


*keterangan gambar: 1.Ikom (kerudung) dan anak-2 (pegang plastik minuman) sebelum start. 2.Piala kemenangan itu. 3. Ayah, Ninis dan ...ondel-ondel

Rabu, 16 Agustus 2006

Indonesia Raya!


Besok 17 Agustus kembali menyapa. Negeri ini sudah 61 tahun merdeka. Dan lagu Indonesia Raya seperti biasa akan menjadi lagu paling top selama satu hari itu di seluruh pelosok negeri, dan mungkin di beberapa perwakilan negeri kita di luar.


Menilik sejarahnya, lagu ini diciptakan dengan maksud menggugah kesadaran bangsa ini yang saat itu tercerai berai oleh penjajah, untuk disatukan dalam negara kesatuan Indonesia. Dan terbukti ampuh, lagu itu memiliki daya gugah cukup kuat untuk 'menjadikan' orang berbagai suku menjadi 'orang Indonesia'.


Saya nggak tau apakah membicarakan lagu kebangsaan saat ini masih cukup relevan. Yang jelas saya cukup terusik ketika Ihsan, putra sulung kami yang sudah kelas 3 SD bilang tidak bisa menyanyikan lagu Indonesia Raya. Ia mengaku di sekolah tidak pernah diajarkan menyanyi lagu itu sama sekali. Hah!


Sebagai orang tua saya cukup kaget, kok bisa? Ihsan memang bersekolah di Sekolah Islam Terpadu dengan muatan kurikulum yang kental nuansa agama Islamnya. Tapi apakah bijak jika tidak mengajarkan lagu kebangsaan pada anak sekolah? Sayangnya kami belum sempat beroleh jawaban dari pihak sekolah.


Ya sudah, diajarkan di rumah saja, pikir saya! Bagi saya pribadi, penanaman rasa kebangsaan masih cukup penting bagi anak-anak, karena mereka adalah bagian dari bangsa ini. Bagaimana mereka bisa bangga dengan negeri mereka, kalau sampai lagu kebangsaan mereka sendiri tidak pernah tahu!


Hmm...

Indonesia Raya!


Besok 17 Agustus kembali menyapa. Negeri ini sudah 61 tahun merdeka. Dan lagu Indonesia Raya seperti biasa akan menjadi lagu paling top selama satu hari itu di seluruh pelosok negeri, dan mungkin di beberapa perwakilan negeri kita di luar.


Menilik sejarahnya, lagu ini diciptakan dengan maksud menggugah kesadaran bangsa ini yang saat itu tercerai berai oleh penjajah, untuk disatukan dalam negara kesatuan Indonesia. Dan terbukti ampuh, lagu itu memiliki daya gugah cukup kuat untuk 'menjadikan' orang berbagai suku menjadi 'orang Indonesia'.


Saya nggak tau apakah membicarakan lagu kebangsaan saat ini masih cukup relevan. Yang jelas saya cukup terusik ketika Ihsan, putra sulung kami yang sudah kelas 3 SD bilang tidak bisa menyanyikan lagu Indonesia Raya. Ia mengaku di sekolah tidak pernah diajarkan menyanyi lagu itu sama sekali. Hah!


Sebagai orang tua saya cukup kaget, kok bisa? Ihsan memang bersekolah di Sekolah Islam Terpadu dengan muatan kurikulum yang kental nuansa agama Islamnya. Tapi apakah bijak jika tidak mengajarkan lagu kebangsaan pada anak sekolah? Sayangnya kami belum sempat beroleh jawaban dari pihak sekolah.


Ya sudah, diajarkan di rumah saja, pikir saya! Bagi saya pribadi, penanaman rasa kebangsaan masih cukup penting bagi anak-anak, karena mereka adalah bagian dari bangsa ini. Bagaimana mereka bisa bangga dengan negeri mereka, kalau sampai lagu kebangsaan mereka sendiri tidak pernah tahu!


Hmm...

Indonesia Raya!


Besok 17 Agustus kembali menyapa. Negeri ini sudah 61 tahun merdeka. Dan lagu Indonesia Raya seperti biasa akan menjadi lagu paling top selama satu hari itu di seluruh pelosok negeri, dan mungkin di beberapa perwakilan negeri kita di luar.


Menilik sejarahnya, lagu ini diciptakan dengan maksud menggugah kesadaran bangsa ini yang saat itu tercerai berai oleh penjajah, untuk disatukan dalam negara kesatuan Indonesia. Dan terbukti ampuh, lagu itu memiliki daya gugah cukup kuat untuk 'menjadikan' orang berbagai suku menjadi 'orang Indonesia'.


Saya nggak tau apakah membicarakan lagu kebangsaan saat ini masih cukup relevan. Yang jelas saya cukup terusik ketika Ihsan, putra sulung kami yang sudah kelas 3 SD bilang tidak bisa menyanyikan lagu Indonesia Raya. Ia mengaku di sekolah tidak pernah diajarkan menyanyi lagu itu sama sekali. Hah!


Sebagai orang tua saya cukup kaget, kok bisa? Ihsan memang bersekolah di Sekolah Islam Terpadu dengan muatan kurikulum yang kental nuansa agama Islamnya. Tapi apakah bijak jika tidak mengajarkan lagu kebangsaan pada anak sekolah? Sayangnya kami belum sempat beroleh jawaban dari pihak sekolah.


Ya sudah, diajarkan di rumah saja, pikir saya! Bagi saya pribadi, penanaman rasa kebangsaan masih cukup penting bagi anak-anak, karena mereka adalah bagian dari bangsa ini. Bagaimana mereka bisa bangga dengan negeri mereka, kalau sampai lagu kebangsaan mereka sendiri tidak pernah tahu!


Hmm...