Rabu, 15 Agustus 2012
Minggu, 22 April 2012
Kamis, 06 Oktober 2011
Minggu, 21 Agustus 2011
7 Days With March batch 2 Dimulai
#Day 1
Jiaaaah …..akhirnya hari yang ditunggu pun tiba.
Batch kedua dari 4 pekan petualangan dengan mobil Nissan March pun dimulai. Sejak terpilih sebagai satu dari 28 blogger dalam program #7DaysMarch, impian menunggangi Nissan March memang membayang dalam benak.
Hmm… sepertinya asyik nih mengendarai city car yang meraih penghargaan sebagai “Car of the Year 2011″ dari Otomotif Award 2011. Saya juga bangga karena dipilih dan dipercaya mencicipi mobil selama sepekan, dan mobilnya bukan sembarangan, tapi mobil dengan sejumlah kelebihan. Kalau harus membandingkan dengan “si berat” mobil di rumah, pastinya mobil ini bakal lebih ciamik.
Semula saya mendambakan dapat March oranye yang warnanya catchy itu. Namun karena harus balik lagi ke kantor secepatnya, saya langsung minta mobil yang ada tanpa sempat pilih-pilih.
Setelah pengecekan kendaraan oleh panitia, mobil diarahkan ke SPBU Shell yang letaknya berseberangan dengan kantor Nissan Motor di MT.Haryono Jakarta untuk pengisian BBM. Oya, karena bakal menemani aktivitas selama sepekan, saya beri julukan bagi March ini sebagai si mungil. Julukan yang pas, sesuai bentuknya yang kompak.Kesan pertama dengan si mungil, mobil ini ternyata lega! Ruang kemudinya cukup nyaman dan saya masih bisa bergerak dengan bebas dan nyaman.
Saat membawanya turun ke jalan, sempat ada rasa was-was. Maklum bukan punya sendiri, takut begini, takut begitu, lantaran sebelumnya sekalipun tak pernah pakai mobil pinjaman. Kalau mobil di rumah ngadat atau sedang di bengkel, saya lebih senang ‘ngangkot’ daripada pinjam mobil teman atau kakak ipar.
Namun kecemasan pun sirna begitu si March membelah jalanan padat Pancoran. Tarikannya lumayan. Saya tak perlu menginjak gas terlalu dalam selama membawa si mungil di tengah lalin yang rame lancar itu.
Sorenya, saya tiba di rumah beberapa saat setelah Adzan Magrib. Saya batalkan puasa dulu dengan secangkir teh hangat. Segarnya….
Setelah shalat Magrib sayapun menjemput krucil-krucil dengan bundanya yang sedang bukber di sekolah. Ini sudah diwanti-wanti istri sejak siang, dan tidak boleh tidak alias “harus”.
“Jemput ya dengan mobil baru…”
Begitu rombongan lenong menaiki March, kekaguman tanpa paksaan pun keluar dari mulut mungil dua bocah kami.
“Enak ya mobilnya….”, ujar si kecil.
“Gak berisik kayak mobil kita…”
Saya hanya tertawa mendengarnya. Saya percaya pujian paling tulus atau kritikan jitu itu datangnya dari anak-anak. Karena dilontarkan tanpa pretensi apapun.
Malam pertama dengan March saya akhiri dengan membawanya ke rumah kakak ipar, yang tinggal bersebelahan komplek dengan kami. Rupanya mereka kepincut dengan bentuknya yang kompak, dan meminta anak sulungnya menjajal mobil. Mereka antusias karena sudah kenal dengan produk Nissan sebelumnya, yakni Grand Livina yang hingga kini masih nangkring di garasi mobil mereka.
“Wah ini sih cocok buat kuliah,” kata kakak ipar.
Baiklah kalau begitu, beliiin satu dong anaknya….hehehe…Kamis, 18 Agustus 2011
Senin, 31 Januari 2011
Kopdar Sejenak Dengan Fazli
Setelah bersay-hi sejak pagi, sore tadi akhirnya saya bertemu Fazli di Mal Kelapa Gading. Pertemuan yang aneh menurut saya. Bagi Fazli kunjungannya kali ini adalah yang pertama di Kelapa Gading, sedangkan saya juga pertama kalinya menginjakkan kaki ke MKG. Ndeso ya... hehehe... Maklum orang timur, biasa main ke kawasan timur dan selatan Jakarta. Bagi saya kawasan KG itu antah berantah. Ke KG sih pernah, tapi main secara khusus ke MKG yang tersohor itu ya baru kali ini. :)
Pertemuan dengan Fazli yang memiliki MP ID Ilzaf, berlangsung seru. Dua jam kita ngobrol berbagai hal, mulai dari asyiknya pertemanan di MP, FB, hingga kopdar Fazli dengan beberapa MP-ers Indonesia di KL. Fazli juga berjanji akan menjadi tuan rumah jika saya berkunjung ke KL suatu hari nanti.
Minggu, 11 Juli 2010
Jika si Ganteng SMP
Letak yang jauh sempat membuat sang bunda ketar-ketir, maklum anak pertama dan cowok satu-satunya. Selama ini ia sekolah cukup bersepeda atau naik angkot seribu perak. Sekarang harus menempuh perjalanan yang cukup jauh, melewati tol dan terminal bis Kampung Rambutan. Apalagi sekolahnya juga lebih pagi dari kawasan Bekasi yang masuk jam 07.00, sementara di sekolah barunya jam 06.30 WIB.
Setelah saya yakinkan, sang bunda pun mengizinkan. Sebenarnya kekhawatiran sang bunda beralasan karena si sulung harus bersentuhan dengan terminal bis tiap hari. Khawatir terjadi hal-hal tak diinginkan, seperti tindakan kriminal yang kerap terjadi di terminal atau tawuran.
Tapi saya berpendapat, Ihsan harus diberikan pengalaman hidup yang lebih luas. Caranya dengan banyak bersentuhan dengan lingkungan, apapun lingkungan itu. Tujuannya agar ia memperoleh pengalaman hidup, belajar memutuskan sesuatu, dan belajar bertanggung jawab terhadap pilihannya.
Bagi Ihsan ini adalah babak cukup penting dalam hidupnya. Sekali lagi kami memberikan pelajaran kepada dia untuk berani mengambil dan menentukan sebuah keputusan. Ini memang sederhana. Tiap hari ia bakal dihadapkan banyak pilihan. Mulai dari pilihan moda transportasi, rute, sampai pilihan untuk jajan atau bawa makanan dari rumah.
Saya memang mengajarkan pada anak-anak untuk berani mengambil keputusan, meski awalnya berat karena sangat berbeda dengan zona nyaman yang selama ini mereka hadapi. Sekolah jauh dari rumah tentunya butuh perjuangan ekstra, karena mesti bangun lebih awal, berangkat lebih pagi, dan beresiko naik turun kendaraan umum berkali-kali.
Meski kebayang repotnya, saya sengaja menghadapkan Ihsan pada kondisi demikian. Agar ia berpikir bahwa untuk mencapai sesuatu mesti berjuang dari bawah.Tak ada yang instan.
Sebenarnya kalau mau gampang ia bisa saja ikut dengan antar jemput sekolah seperti yang pernah ia ikuti saat SD dulu. Prakltis meski mahal. Relatif aman dan tak perlu naik turun dari rumah ke sekolah. Tapi ia memilih berangkutan umum. Sebuah pilihan yang saya acungi jempol, sebab dengan begitu ia akan banyak berinteraksi dengan segala karakter orang, bertemu orang yang berbeda, dan belajar menempatkan diri dalam berbagai kesempatan dan suasana.
Kamis, 24 Juni 2010
Sekali Lagi Tentang Film Tanah Air Beta
Minimnya tontonan 'aman' bagi anak-anak menjadi salah satu alasan. Di tengah hingar bingarnya film Indonesia bergenre komedia seks, hantu dan drama percintaan, film garapan Alenia menjadi berbeda.
Dan liburan tahun ini Alenia merilis film bertajuk Tanah Air Beta. Film ini dibintangi Allexandra Gottardo dan Lukman Sardi. Meski memasang nama besar aktor Lukman Sardi, namun film ini lebih banyak berkisar pada tiga tokoh yakni Tatiana (Allexandra) dan dua bintang cilik yang berperan sebagai Merry (Griffit Patricia) dan Carlo (Yehuda Rumbindi).
Allexandra bermain cukup apik sebagai ibu yang terpisah dari anaknya, Maru lantaran jajak pendapat di Timtim (kini Timor Leste). Ia berhasil melepaskan diri dari sosok selebriti dan tampil apa adanya sebagai warga Timtim yang hidup di pengungsian di NTT. Semula saya underestimate dengan peran Tatiana yang dimainkan Allexandra.
Saya kira dia tak akan bisa berpisah dari raganya yang sangat jelit itu. Namun dugaan saya salah, Allexandra yang putih disulap menjadi legam khas warga Timtim. Meski sebenarnya penampilan fisiknya masih bisa dibuat lebih letih, lebih keras, namun usaha tim produksi Alenia tak mengecewakan lah.
Lalu bagaimana dengan 2 pemain cilik tadi? Saya patut memberi acungan jempol pada tokoh Carlo. Permainannya begitu natural, gerak tubuh dan penjiwaannya juara. Dialah yang menghidupkan film ini sehingga punya 'nyawa'. Tokoh Carlo pula membuat peran Merry menjadi lebih berkilau.
Sebenarnya jalan cerita Tanah Air Beta cukup sederhana. Meski berlatar peristiwa jajak pendapat, namun anda tak akan dibuat berkerut kening menyaksikan kontroversi jajak pendapat dan berpisahnya Timtim dari bumi Indonesia.
Sutradara Ari Sihasale tampaknya sengaja tak mau terlibat dalam persoalan politik yang berat. Ia hanya mengambil latar belakang persoalan politik jajak pendapat dan membingkainya menjadi kisah persahabatan di tengah sulitnya nasib para pengungsi eks Timtim.
Sama dengan film Denias yang dulu banyak mengeksplore keindahan tanah Papua, film inipun masih menampilkan resep serupa. Lansekap Belu NTT yang gersang dibingkai dengan cantiknya dalam film ini. Meski gersang, sutradara mampu memperlihatkan sebuah Indonesia yang lain pada penonton.
Dan saya kira keberhasilan film ini selain memiliki pesan yang kuat pada indahnya persahabatan, juga salah satunya lantaran Ale mampu menyuguhkan wajah lain negeri ini. Ini penting, terutama bagi anak-anak kota besar yang konon lebih tahu wajah Singapura atau Australia dibandingkan dengan wajah negerinya sendiri.
Satu lagi yang penting dari film garapan Alenia adalah concern-nya pada hal-hal berbau nasionalisme. Cinta negeri dan cinta segala hal yang berbau tanah air sendiri selalu kuat ditampilkan Ale dalam film-filmnya. Penggunaan lagu perjuangan dalam film ini jelas merupakan ide jenial. Penonton anak-anak jadi memiliki kenangan akan film ini dari lagunya yang sangat jarang lagi mereka dengar dan nyanyikan.
Kalau harus mengkritik film ini, saya dan mungkin penonton lain agak terganggu dengan adegan cuci tangan dengan sabun yang sampai harus berulang 3 kali. Saya tahu, film ini sejak awal memang disponsori oleh produk sabun kesehatan yang memiliki kampanye cuci tangan dengan sabun. Tapi mengulang adegan cuci tangan dengan sabun hingga tiga kali saya pikir kebangetan. Agak merusak kenyamanan menonton kita.Senin, 04 Januari 2010
Jembatan UKI Rawan Celaka!
Belum lagi kekagetan kita hilang atas tewasnya Daniel, seorang bocah 4 tahun yang jatuh dari rumah susun Petamburan, Jakarta Pusat, kemarin ada lagi orang yang jatuh dari ketinggian. Seorang lelaki jatuh (lebih tepatnya menjatuhkan diri) dari lantai 4 sebuah mall di Solo.
Berbeda dengan Daniel yang jatuh, kasus kedua diduga kuat adalah kasus bunuh diri. Korban yang memiliki penyakit lambung merasa putus asa dengan penyakitnya yang tak kunjung sembuh. Dan terjun dari ketinggian mall adalah pilihan hidupnya.
Bagi saya kematian yang dipilih lelaki Solo itu sangat konyol. Merasa tak punya lagi pegangan hidup, tak ada yang membantu, maka jalan pintas kematian tragis dipilih. Padahal kalau dia percaya masih ada Tuhan, ceritanya akan lain.
Saya tak hendak membahas fenomena terjun bebas di negeri ini yang belakangan grafiknya naik. Saya justru mau menyoroti banyaknya fasilitas publik yang membahayakan anak-anak, istilahnya unchildren friendly, tidak bersahabat dengan anak.
Contohnya pagi tadi saya temukan di jembatan penyeberangan depan rumah sakit Universitas Kristen Indonesia (UKI) di Cawang, Jakarta Timur. Ada bagian jembatan yang rusak dan hanya ditutupi selembar seng. Kondisi ini sebenarnya sudah saya dapati sejak lama. Lebih dari sebulan lalu kalau tak salah.
Saya tak bisa bayangkan jika ada seorang anak kecil main-main di jembatan penyeberangan ini. Karena seringkali ada anak-anak keliaran sendirian tanpa pendampingan orang tua di sekitar jembatan. Seng yang digunakan sebagai penutup tidak cukup kuat. Bahkan terkesan rapuh. Jika kita sandari sebentar pasti runtuh.
Wahai pemda DKI Jakarta atau instansi yang berwenang segera ambil tindakan perbaikan. Jangan sampai jatuh korban baru kita semua menyesalinya. Warga harus dilindungi dari kerusakan-kerusakan semacam ini.
Bisa jadi patahnya besi pembatas jembatan ini sebagian adalah karena ulah tangan usil yang tak bertanggung jawab. Tapi membiarkannya seperti sekarang lebih dari sebulan adalah kelalaian. Jika jatuh korban, pemda adalah institusi yang patut dipersalahkan.
Semoga tulisan sederhana ini dibaca dan ditindak lanjuti pegawai Pemda DKI Jakarta.
Senin, 28 Desember 2009
Mendadak Liburan Bandung-Puncak
Nah, bagi saya yang kerjanya abnormal, tak pernah kenal konsep long weekend. Bagi saya weekend sama saja dengan liburan biasa, dengan sedikit kelonggaran aktivitas dan lebih banyak waktu di rumah. Itu saja.
Kenapa tak ada konsep long weekend bagi saya? Karena biasanya justru di akhir pekan banyak kerjaan sambilan yang harus dilakukan. Anehnya, sabtu istri kerja, dan minggunya giliran saya yang kerja. Benar-benar pasangan yang aneh!
Akhirnya dengan sedikit dadakan kita merancang perjalanan hore ke Bandung dan Puncak. Awalnya cuma pengen ke Bandung. Lantaran tak beroleh hotel karena mendadak dangdut nyarinya, akhirnya diputuskan ke Bandung tetap jadi tapi cuma buat main-main. Nginepnya? Cipanas, di vila milik seorang kawan.Berangkat pagi sekitar jam 06, saat matahari masih malu-malu hadirnya. Kami langsung ke Lembang. Tujuannya ke Rumah Sosis yang jadi isu nasional karena anak-anak kerap melihatnya di tv.
Kami tak bisa terlalu lama di rumah sosis ini. Permainannya biasa aja, mirip-mirip di Jakarta sana. Apalagi lingkungannya tak alami.
Tujuan selanjutnya ke Kebun Strawberry. Di tempat inilah anak-anak mendapat tempat bermain yang menyenangkan. Udara yang segar, kebun yang lapang membuat anak-anak ceria.
Buat yang belum pernah kemari, coba deh ke tempat ini. Kapan lagi bermain di kebun sambil bebas metik buah strawberry sendiri.
Di puncak, selain menginap, kami juga sempat mengunjungi mesjid Atta'awun. Meski berkali-kali ke puncak, baru kali ini dengan sengaja berkunjung ke mesjid ini. Ternyata mesjid ini jadi tujuan wisata banyak kalangan. Selain lokasinya yang keren, ternyata di belakang mesjid ada aliran sungai dari puncak yang dialirkan kemari. Cocok untuk istirahat sejenak sambil berfoto ria. Beberapa pengunjung malah menggelar tikar sambil makan-makan di sisi sungai.
Minggu, 20 Desember 2009
Reuni Setelah 20 Tahun
Sabtu lalu saya hadir di reuni angkatan 89 SMAN 70 Bulungan, Jakarta Selatan. Sekolah yang punya banyak cerita bagi kami alumninya. Sekolah yang terletak di sepenggal jalan Bulungan ini merupakan penggabungan 2 sekolah SMAN 11 dan SMAN 9. Karena sering ribut, akhirnya didamaikan menjadi SMAN 70.
Karena gabungan dua sekolah, sekolah ini menjelma menjadi sekolah 'terbesar' di Indonesia. Bayangkan, dulu satu angkatan bisa 800 siswa!
20 tahun masa yang cukup lama tak bersua kawan seangkatan. Sebagian besar kawan benar-benar saya jumpai lagi setelah 20 tahun, karena selama ini komunikasi hanya lewat email atau telepon.
Ada yang masih tampak seperti terakhir ketemu, namun sebagian besar pastinya sudah berubah. Secara fisik so pasti. Mulai dari size, rambut warna-warni hingga kelakuan yang ‘watt’nya lebih rendah dari jaman dulu.
Meski tak semua hadir, tapi cukup ramai lah reuni akbar pertama angkatan kami ini. Dari 800-an teman seangkatan, saya perkirakan lebih dari 400 orang hadir. Yang datang selain yang mukim di Jabodetabek, juga beberapa dari luar kota, bahkan ada yang dari luar negeri.
Acara hiburannya nyaris gak terlalu penting bagi saya. Kita semua sibuk berhaha-hihi, senyum sana, senyum sini, foto bareng, atau ngemil jajanan kantin yang ngangeni itu.
Yang mengharukan adalah perjumpaan dengan guru-guru. Umumnya mereka sudah berada di usia emas. Pak Julius Jusuf , kepsek 70 era 89 dulu, ternyata tak banyak berubah. Masih seperti dulu, sehat, bugar dan tegas. Wah, mesti banyak belajar dari JJ soal jaga kesehatan dan kebugaran nih, mengingat di usianya yang ke 76 masih tetap terlihat tegap bertenaga.
Beda dengan Pak JJ, pak Amir guru olahraga, yang hadir dalam kondisi sakit. Sepanjang acara ia hanya duduk di kursi rodanya. Meski sakit, saya salut dengan semangat hidupnya. Saya sempat berbincang dengan pak Amir di sela acara. Katanya ia terharu dengan undangan kawan-kawan. Makanya meski kondisi fisiknya tak memungkinkan, ia memaksakan hadir demi melihat anak didiknya sekarang seperti apa.
Saya sendiri perlu memberikan acungan jempol kepada kawan-kawan panitia yang berhasil mempertemukan kita dalam satu forum seperti ini. Di tengah kesibukan kerja masing-masing panitia, akhirnya acara ini berhasil digelar.Tengkyu guys, sudah bekerja dengan keras. Berkat acara kemarin, beberapa kawan sudah terinspirasi untuk membuat reuni kecil antar kelas.
Minggu, 13 Desember 2009
Angka 13 Pernikahan Kami
Hari ini saya dan istri merayakan 13 tahun usia pernikahan kami. Sebuah usia yang belum ada "apa-apanya" jika dibandingkan mereka yang sudah berhasil mengukir angka perkawinan perak apalagi emas. Kami masih jauh dari itu. Apalagi dari hal pencapaian pengalaman hidup.
Ibarat anak-anak, kami masih banyak belajar. Belajar menjalani hidup pernikahan ini dengan benar. Belajar memahami satu sama lain, belajar menjadi suami, belajar menjadi ayah, dan belajar menjadi muslim yang lebih baik lagi.
Meski baru "13" , bukan berarti tak ada raihan apapun dalam perjalanan hidup pernikahan kami. Yang paling jelas, kami jadi saling mengenal pribadi, memahami kebiasaan-kebiasaan dan tentunya makin sayang dengan pasangan. Bagi kami, itu jauh lebih penting dan bermakna.
Jika mengingat masa 13 tahun silam kadang nyaris tak percaya. Tak seperti kebanyakan pasangan lainnya, kami menikah dengan persiapan yang minim. Maksudnya, jika pasangan lain sudah banyak menabung, punya rumah dan segala materi lain, kami tidak seperti itu.
Kami menikah dengan modal nekat. Dengan acara yang sangat sederhana di Nganjuk Jawa Timur sana. Hanya mengundang saudara, kerabat dan tetangga dekat saja. Benar-benar minimalis. Yang penting sah.
Kami berdua memang orang yang sangat simpel dan realistis. Saat itu kami berpikir, kalau harus menunggu punya ini itu kapan kami bisa mengikatkan diri dalam pernikahan? Pandangan ini memang dianggap aneh sebagian kerabat. Tapi, the show must go on lah. Kami yang menikah maka kami pasti bertanggung jawab pada pilihan kami.
Alhamdulillah usaha dan do'a kami didengar Allah. Pintu rizki dibuka dengan lebar bagi kami. Kami yang semula menumpang tinggal di rumah ortu selepas menikah, akhirnya bisa punya rumah sendiri. Meski mungil kami bangga bisa membeli rumah dari jerih payah sendiri, bukan hadiah atau pemberian.
Setelah itu berturut-turut rizki mengalir, termasuk rizki titipan Allah paling berharga yakni seorang jagoan dan 2 bidadari cantik yang membuat semarak rumah kami.
Kini 13 tahun sudah kami menjejakkan kaki bersama. Jika 14 Desember 1996 bahtera kami hanya berisi dua orang, kini sudah menjelma menjadi 5 orang. Di depan kami sadar perjuangan belumlah berakhir. Naik turun, susah senang, pasti kami alami.
Tapi dengan berlima, insya Allah kami lebih kuat memandang tantangan di depan. Benar kata JK, bersama kita bisa.
Rasa syukur teratas saya ucapkan pada Zat yang Maha Sempurna, Allah SWT. Berkat skenario-Nya lah kami menyatukan diri.
Terima kasih istriku, Ikom, yang sangat mengerti setiap desah nafasku. Ia bisa menjadi kawan, lawan, teman diskusi. Kadang mengademi saat hati gundah. Kadang menjadi penjaga hati saat kelakuan suaminya ini agak gokil.
Terima kasih anak-anakku, Ihsan, Nabila dan Ninis. Kalian adalah alasan terbaik kerja keras kami selama ini.
Untuk kedua ortu dan mertua. Kalian number one deh. Kalau saja tak ada restu dari kalian, entah apa jadinya kami.
Untuk kawan, sahabat, kerabat, terima kasih telah menjadi mata-mata yang sehat bagi hubungan kami. Kami ikut dijaga oleh kalian.
Kamis, 10 Desember 2009
Minggu, 01 November 2009
Selasa, 23 Juni 2009
Garuda di Dadaku dan Langkanya Film Anak
Hmm..daripada anak-anak rewel, mendingan ambil pertunjukan selanjutnya, jam 14.40. Masih lama tak apa, yan penting kumpul. Toh jadi ada kesempatan nongkrong di toko buku.
Sebenarnya kami bukanlah bioskop mania. Dulu semasa kuliah saya kerap nonton sekedar refreshing. Namun sejak menikah dan kerja, frekuensi nonton di bioskop saya turun drastis. Kenapa akhirnya kami nonton film ini? Demi anak-anak. Saya ingin mereka juga merasakan pengalaman belajar dari berbagai hal. Dan film salah satu cara kami untuk mengenalkan mereka pada ‘dunia lain’ selain buku dan pengalaman batin lainnya.
Dan tebakan saya sejak awal ternyata benar. Mereka sangat enjoy melihat film ini. Banyak hal yang bisa diambil dari cerita sederhana Garuda ini. Mulai dari arti persahabatan, kerja keras, dan saling membantu. Nilai-nilai yang sangat sederhana dan membumi semacam ini dibutuhkan anak-anak.
Setelah dibombardir dengan aneka hiburan kelas rumahan di tivi yang sangat ‘ajaib’ itu, nonton film ini serasa melihat sebuah gagasan sederhana yang sangat khas anak-anak. Anak-anak seolah melihat dirinya sendiri, yang berani mimpi dan bekerja keras untuk mencapai tujuan dan cita-citanya. Penghargaan akan proses yang saya cermati dari film ini. Karena justru disinilah persoalan yang kerap kita hadapi. Generasi sekarang dianggap tak menyenangi sebuah perjuangan. Senang akan hasil tapi menafikan proses.
Tapi bukankah yang membuat itu semua ya orang dewasa, kita-kita juga.Lihat saja pertunjukan tv di rumah, semuanya menafikan proses. Hidup ini seolah nyaman bener. Tak perlu sekolah bener, toh nanti bisa jadi model, dapat duit banyak, terkenal. Tak perlu jujur kalau memang dengan curang bisa jadi ‘orang’. Wah!
Prihatin saya melihat langkanya tontonan yang bisa menuntun. Memang bukan untuk kita yang dewasa, tapi lebih untuk anak-anak kita. Karena anak-anak kita adalah masa depan kita nantinya. Jika kita tak peduli, jangan pernah mengharap generasi mendatang akan cemerlang.
Film memang hanya bagian kecil dari sebuah persoalan. Tapi film adalah produk budaya yang bisa menggambarkan bagaimana sebuah bangsa merangkai masa depannya.
Salut karena masih ada orang yang mau bekerja keras memberi sebuah pengajaran melalui film bagi anak-anak. Negeri ini amat sangat langka dengan tontonan yang khas anak-anak, yang memotret mereka sebagai subyek yang memiliki mimpi, cita-cita, harapan akan masa depan. Bukan lagi sebagai obyek perlakuan buruk orang tua, atau jadi super hero yang tak menjejak bumi.
Kalaupun harus mengkritik film ini, mungkin lebih pada kemasan. Entah mengapa Garuda mengambil setting dan menampilkan sosok anak Jakarta lagi. Bukankah cerita anak dari jakarta sudah terlalu sering? Meski tak ada yang salah dengan anak Jakarta, tapi akan lebih menarik (menurut saya) memotret perjuangan anak kampung yang berjuang menjadi pemain bola. Mungkin bisa lebih seru. Toh kisah Laskar Pelangi yang dari Belitung saja bisa menyihir anak kota untuk menonton.
Tapi secara keseluruhan film ini menarik bagi keluarga. Selain nilai-nilai yang saya sebut tadi, ada satu yang juga penting dan belakangan sangat tak dipedulikan yakni nilai patriotisme. Wah, saya sendiri merasa ikut bangga saat menyaksikan tokoh utama Bayu mengenakan kaos berlambang Garuda di dadanya. Adegan yang sangat emosional dan membuat leleh air mata.
Garuda di dadaku…
Garuda Kebanggaanku
Ku yakin hari ini pasti menang…
*tulisan ini ada di Kompasiana.
Rabu, 17 Juni 2009
LINGKAR PENA PUBLISHING HOUSE - Lomba Resensi (The Road to The Empire)
Lomba resensi buku The road to the empire sebentar lagi tutup. yuk ikutan
Rabu, 10 Juni 2009
Selasa, 09 Juni 2009
Pernikahan Edo
yang tercecer dari pernikahan Edo-Ferdiana, Sabtu 30 Mei 2009, di aula mesjid PLN Duren Tiga Jakarta Selatan.