Sabtu, 25 Februari 2006

Wis(uda)h

Ini cerita sekian hari silam, 22 Feb'06, saat My lovely wife, Ikom, diwisuda S-2 di IPB.

Pagi itu dari Kranggan kami bergegas menuju Bogor. Semua sudah sesuai rencana, anak-anak begitu manis bisa ikut bangun sepagi itu. Sebagian dari kami memang lupa sarapan, pun juga anak-anak. Di mobil toh perbekalan komplit, pikirku.


Baru saja menjelang Bogor di tol, si-tengah Nabila muntah. Disusul si-kecil Ninis. Waduh, mulailah kehebohan itu. Baru tuntas dengan kedua bocah ini, eh si-sulung Ihsan menyusul, mau BAB yah...! :(

Mau tak mau kami tepikan mobil di dekat terminal Baranangsiang. Dengan langkah bergegas kami sibak kerumunan orang di terminal, mencari toilet terdekat. Nah, itu dia di bagian depan! Usai dengan si-sulung, perjalanan pun berlanjut. Tapi tidak semudah itu. Jalanan menuju kampus IPB Dermaga macet total. Huh! Sebel, disana sini angkot, nggak beraturan pula. Tapi, tak ada angkot bukanlah Bogor bo!


Di kampus, pagi itu keriuhan sudah terasa sejak di pintu muka. Potret sana-sini, berpose di depan gerbang atau gedung kampus sudah mulai dilakukan calon wisudawan. Kami ambil keputusan langsung ke tempat prosesi, toh nanti bisa foto-foto lagi.


Sejam, dua jam, kami undangan menunggu usainya wisuda. Cukup melelahkan, terutama bagi anak-anak. Apalagi di pertengahan wisuda kami terpenjara dalam gedung karena hujan. Sempurnalah rasa bt itu. Dan akhirnya semua acara itu usai jam 2 lebih! 


Lega, akhirnya usai juga prosesi yang cukup memeras tenaga ini. Sebenarnya, acara ini tak begitu penting bagiku dan Ikom. Tapi kami sepakat memberikan ini pelajaran untuk anak-anak. Memberi semangat buat mereka agar tak lelah mendaki ilmu. Apalagi saat kami sama-sama S1, tiga pangeran dan bidadari kecil kami belum hadir, jadi pas lah alasan membawa mereka ikut dalam wisuda. 

Selasa, 14 Februari 2006

Pontia, Revolusi Sepotong Pisang



Di sepenggal jalan alternatif Cibubur, Jakarta Timur arah Cileungsi. Nyaris tiap hari terlihat antrian panjang sejumlah orang. Bukan mau mudik lebaran, karena hari raya baru saja lewat. Mereka rela antre hingga mengular hanya demi sepotong pisang! Hah, pisang? Ya, pisang.


Sepulang kerja kulewati lagi jalan itu. Antrian itu masih terlihat. Ingin rasanya turun dari kendaraan untuk bergabung dengan para pisang mania. Minimal jadi bagian histeria warga Cibubur dan sekitarnya. Pengen juga jadi buah bibir tetangga karena ikutan antri di sini.


Kedai itu, lebih tepatnya warung mungil tempat jual pisang diberi label Pontia yang dipenggal dari kata Pontianak. Konon si empunya usaha adalah warga Pontianak, Kalimantan Barat. Entah diberi ramuan apa sepotong pisang goreng ini mampu membius ratusan orang, bahkan mungkin ribuan.


 


Aku sendiri hingga kini belum punya nyali untuk jadi bagian kehebohan ini. Agak miris juga berdiri berjam-jam di tengah cuaca kota yang kadang kurang bersahabat seperti saat ini. Hanya demi sepotong pisang goreng!


 


Suksesnya Pontia, seperti kebiasaan orang Indonesia lainnya, lantas diikuti pebisnis lain dengan menggelar dagangan sejenis. Tak jauh dari lokasi Pontia, dua lapak pisgor sejenis dibuka. Lumayan rejeki menyebar. Setidaknya mereka yang tak tertampung di Pontia, mampir di kedai pisang Kalimantan, begitu mereka menyebutnya.


 


Satu yang patut diacungi jempol, merekalah pengusaha kecil yang cerdik melihat ceruk pasar. Produk yang mulanya ‘kampungan’, just fried banana, mereka sulap menjadi pisang goreng yang cukup kompetitif di pasaran. Mungkin setelah ini akan ada singkong goreng varian baru yang juga bikin heboh. Dan kehebohan itu bisa jadi terjadi lagi di sepenggal jalan alternatif Cibubur.


 


 

My parents


Bogor, 22 feb'06

Gambar ayah, ibu, mertua

Senin, 13 Februari 2006

Wisuda IPB

Start:     Feb 22, '06 7:00a
Location:     Kampus IPB Dermaga, Bogor
My wife, Ikom, hari Rabu itu akan diwisuda. Sebenarnya dia sudah selesaikan thesisnya di jurusan Komunikasi Pembangunan IPB sejak Oktober 2005 lalu. Namun, karena dianggap sidangnya usai last minute menjelang persiapan wisuda gelombang pertama, maka dia harus ikut wisuda saat ini.

Sabtu, 11 Februari 2006

Our Children


Bogor, 22 Feb'06

Album si sulung, tengah dan bungsu

Jumat, 03 Februari 2006

Rokok

Hari ini Jakarta melarang warganya merokok di ruang publik dan kendaraan umum. Ada yang cemberut dengar rencana ini. Ada pula yang skeptis dengan ulah gubernur Sutiyoso. Nggak ada kerjaan katanya. Tapi bagi non perokok, semoga ini awal ibukota bisa jadi surga dengan udara yang lebih bersih dari polutan rokok.


 Dari sekian kebijakan yang pernah dibuat Sutiyoso, barangkali ini kebijakan yang paling menyentuh (gue terutama....). Bukan apa-apa, kota ini sudah begitu sumpek dengan asap kendaraan + pabrik yang menyesakkan. Asap rokok menjadi musuh bagi banyak orang, karena tak adanya etika yang jelas dari para perokok. Mereka bisa saja merokok sembarangan di tempat umum, angkot, rumah sakit, bahkan berdekatan dengan bayi dan balita! Kalau ditegur, jawabannya seenaknya "Rokok-rokok gue, duit punya gue juga, ngapaian ngurusin orang..." Nah, lho!



Hanya karena sebatang rokok, ketidaknyamanan kerap dirasa kaum non perokok, dan ini bertahun-tahun tak pernah dipikirkan pemerintah. Sekarang saatnya pemerintah melindungi warganya agar lebih sehat. Toh, aturan ini juga tak mungkin membangkrutkan pabrik rokok. Di negeri maju yang aturan merokoknya lebih jelas, pemerintahnya tetap jalan dari berbagai macam pajak.


Kalau ada yang beranggapan aturan ini membatasi, jawabannya "ya". Setelah ini mungkin orang jadi malu merokok. Mungkin juga orang akan bilang, "Saya tidak merokok, tapi dirokok!!".

Danish

Entah sudah kesekian kali Islam selalu diperolok. Apakah dikaitkan dengan penjahat, teroris, dan sederet stigma negatif lainnya. Kali ini datang dari negeri nun jauh di Skandinavia sana, Denmark. Nabi Muhammad bagi muslim adalah the holy man -mungkin sama 'holy' nya dengan Yesus bagi kawan Kristiani- diejek dengan karikatur. Adalah Jyllands Posten, koran di Denmark sana yang memuat karikatur itu. Jelas disebut Muhammad, sang nabi, namun dengan penggambaran bak teroris! Dengan bom di kepala, golok di tangan, dan tampang bak pandir. Wah!!!


Denmark berdalih tak bisa melarang atau memberangus   dengan dalih kebebasan pers. Tapi, alih-alih melindungi kebebasan berekspresi, tak tahukah mereka kalau itu menyakiti umat muslim dunia, yang jumlahnya Miliaran orang itu? Kalo akhirnya memicu reaksi anti Denmark dari umat muslim dunia, rasanya wajar. Belakangan demo anti denmark di tanah air pun gencar dilakukan, termasuk boikot produk Denmark.



Yang menyebalkan, karena posisinya terjepit opini kalangan muslim, Denmark menggalang opini dunia, minta dukungan.


Tidakkah toleransi diajarkan disana? Tidakkah kebebasan pers menyentuh sisi manusiawi orang lain, adakah mereka mengetahui kalo di dunia ini ada Islam? Atau kita yang Islam kurang 'syiar'nya sehingga begitu mudah dilecehkan dan direndahkan? 


Waduh, jadi susah nih makan Danish Butter Cookies dari Denmark.....